Jumat, 21 Desember 2007

Kurban, bukan cuma nyembelih kambing

Ibadah itu nggak cuma upacara ritual, seperti gerak badan senam pagi, semacam taiso di jaman jepang dulu, upacara bendera di sekolah tiap senin pagi, atau PNS tiap tanggal 17 di jaman Orde Baru... tetapi lebih dari itu, ibadah harus punya jiwa atau ruh atau punya dimensi moral spiritual dan mengandung aspek edukatif untuk membangun perilaku konstruktif... weleh kok pidato pejabat banget gitu looh...
Iya sih... intinya ibadah itu memang nggak boleh ecek-ecek, harus dibarengi kesungguhan hati dan harus "membekas" dalam kehidupan sehari-hari. Capek-capek sholat kalau cuma asal-asalan atau sahun apalagi yuraun justru membuat pelakunya celaka. Berlapar-lapar puasa kalau tidak sungguh-sungguh cuma dapet perut kerocongan dan tenggorokan rock-rockan. Tentu maksudnya bukan lantas kalau belum bisa khusuk nggak usah sholat, kalo belum paham bener ilmunya jangan puasa dulu.. ya nggak gitu lah. Maksudnya mencoba tapi belum sempurna memang celaka, tapi takut mencoba dengan dalih belum bisa sempurna justru dapat celaka lebih banyak, pertama melawan perintah celaka dikutuk, kedua malas atau nggak mau berusaha celaka dibenci, ketiga celaka kehilangan kesempatan dapat tiket ke sorga...
Nah sekarang ke soal ibadah yang lagi dilakukan sekarang ini yakni korban. Ritual korban itu motong kambing, nyembelih dapi sapi atau menjagal onta.. tapi korban bukan cuma berhenti disitu saja... Ritual ibadah termasuk kurban ya harus punya ruh dan menyentuh moral spiritual, dan ada dampaknya terhadap perbaikan perilaku konstruktif.
Tujuan korban bukanlah untuk memberi upeti atau kasarnya "nyogok" terhadap yang memiliki kekuatan yang mempengaruhi kehidupan manusia, biar nggak celaka atau biar selamat dari marabahaya. Outcome terpenting dari ibadah korban bukanlah apa atau kepada siapa daging itu dipersembahkan, tetapi justru terletak pada pengaruh ritual itu terhadap diri si kurban.
Ibadah korban merupakan salah satu wujud apresiasi atas sikap pasrah dan patuh yang luar biasa dari Kanjeng Nabi Ibrahim kepada Gusti Alloh sehingga beliau ikhlas melakukan apapun untukNya termasuk mengorbankan putera sendiri yang tersayang. Tentu nggak imbang kalau mencoba membandingkan Kanjeng Nabi Ibrahim 'alaihi salam Bapak Para Nabi dan Rasul, dengan kita yang ilmu dan amalan agamanya sangat terbatas. Tidak imbang pula menyandingkan seorang remaja putra Nabi satu-satunya, pemuda soleh yang dibamba puluhan tahun dan dibesarkan dalam hidup penuh perjuangan dengan... maaf.... seekor kambing (Maka kalau kambing saja keberatan itu sungguh ... t-e-r-l-a-l-u..). Karena ikatan emosional antara kanjeng Nabi Ibrahim dengan putranya itu jelas jauh sekali bedanya dengan ikatan emosional kita dengan kambing korban yang baru kita beli menjelang penyembelihan bahkan kita beli lewat "cyber" dimana kita tidak pernah lihat wajahnya kecuali lewat file jpeg doang.
Meskipun demikian perbandingan itu hendaknya tidak mengurangi kekhidmatan dalam menjalankan kurban, semangat dan suasana hati kita perlu di"tuning" maksimal sampai "matching" dengan suasana Nabi Ibrahim ketika akan mengeksekusi "ujian" yang maha berat itu. Pengorbanan yang sebenarnya kan bukan hanya terletak pada kambingnya, dombanya, sapinya atau ontanya, tetapi beyond that... yakni keikhlasan hati untuk mengorbankan sifat kebinatangan yakni mengorbankan ego, mengendalikan hawa nafsu, meminggirkan kepentingan atau kesenangan sendiri...
Daging korban sangat dibutuhkan oleh mereka yang kurang protein hewani, bermanfaat untuk membantu orang kekurangan, adanya korban juga dapat membantu petani peternak. Namun kerelaan untuk mengorbankan egoisme, mengendalikan hawa nafsu, melepaskan sebagian kesenangan sendiri yang merupakan dampak dari spirit korban, meskipun nggak bisa dibikin BBQ, tentu jauh lebih bermanfaat bagi lingkungan, masyarakat, bangsa bahkan umat manusia....

Selamat Idul Adha 1428 H
Selamat berkurban bagi yang punya kelebihan rejeki

Selasa, 20 November 2007

Lebaran beda harinya, tapi sama tanggalnya

Ustad Mukidin mengatakan, mau lebaran Jumat (12/11/2007) boleh asal nggak cuma ikut-ikutan tanpa dasar apalagi dasarnya cuma waton suloyo dengan Pemerintah saja… lebaran Sabtu (13/11/2007) juga nggak salah asal ngerti dan tidak cuma manut grubyug saja… Gusti Alloh memberi kebabasan kepada manusia untuk milih sesuai dengan keyakinannya…
Itulah kelebihan orang Islam, untuk menentukan waktu sholat Maghrib atau Imsyak saja butuh ilmu pengetahuan. Bahkan untuk penentuan awal atau akhir puasa ini di samping perlu ngerti ilmunya juga perlu ada sidang ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu (astronomy, penerbangan, matematika, komputer dan ilmu fikih) dengan dibantu alat-alat dari yang paling sederhana sampai canggih (teropong, alat-alat ukur optik/ digital, perangkat komputer).
Bayan Semun mengajukan pertanyaan usil “Sudah sedemikian canggih cara untuk ngukurnya kok masih terjadi perbedaan?” "Kalo nurut Gusti Alloh sebenarnya lebarannya kapan sih pak Ustad?"
“Sing jelas lebaran ya tanggal 1 Syawal…. Apapun harinya’ jawab Ustad Mukidin tegas.
“Cuma lebaran nurut Gusti Alloh itu kapan, ya sepurane ae.. masiyo jelek-jelek sehari semalam lima kali dialog dengan Gusti Alloh lewat sholat... tapi saya nggak berani “njampangi” kehendak Gusti Alloh”, kata Ustad Mukidin sambil melepas kopiahnya dan garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.
Manusia sebelum dilepas di dunia ini udah dibekeli ilmu dan akal. Monggo dibuka dan dipake bekal itu. Nah dengan bekal akal itu manusia bisa punya ilmu atau mengembangkan teori.
Kembali ke sejarah…. ketika peradaban Islam memasuki masa gemilang di Eropa dulu. Ilmu apa yang pertama kali dikembangkan? Penelitian membuktikan yang pertama adalah astronomy atau ilmu falak. Kenapa? Lha iyalah… karena ilmu itu langsung berkaitan dengan kegiatan ibadah orang Islam. Umat Islam kalo mau sholat harus ngerti ilmu tentang peredaran matahari, sedangkan kalo mau ibadah puasa harus paham ilmu peredaran bulan.
Sehingga abad emas itu melahirkan ilmuwan besar seperti Al-Farghani yang menghasilkan karya monumental Kitab fil Al Harakat al-Samawiya wal Jarwani Ilm Al-Nujum yang kemudian dialih bahasakan menjadi The Elements of Astronomy. Asaking terkenalnya di dunia astronomi sampai namanya diabadikan sebagai nama sebuah kawah di bulan (afraganus crater).
Di pesantren tradisional rasanya tidak pernah diajarkan ilmu untuk jadi teroris tetapi pasti diajarkan ilmu falak. Para santri atau kaum sarungan itu umumnya piawai menggunakan teropong theodolit tradisional yang terbuat dari kayu yang dinamakan rubu'al mujayyab. Dari kalangan pesantren kuno Indonesia juga lahir ilmuwan falak yang cukup disegani bahkan di dunia internasional seperti almarhum Kyai Abdul Djalil dari Pati (beliau pernah jadi Ketua Lajnah Falakiyah NU/DEPAG). Kitab karangan beliau Fath al-Rauf al-Manan walaupun sangat basic tetapi jadi buku pegangan wajib bagi santri yang ingin mempelajari ilmu falak sampai saat ini.

Dengan perkembangan mutakhir dimana teropong sudah sangat maju, perhitungan-perhitungan dilakukan dengan bantuan komputer, sehingga akurasi hasil pengukuran sudah tinggi. Bahkan orang saat ini sudah bisa meramalkan besuk tahun 2013 nanti Idul Fitri akan jatuh pada tanggal 17 Agustus, jadi nanti pagi hari kita sholat ied, siang sedikit upacara, habis itu balapan karung atau panjat pinang sambil salam-salaman. Terjadinya gerhana bisa diramal sampai ke detil menit dan detik.

Maka aneh di jaman semaju ini untuk obyek yang jelas terlihat, menghasilkan teori yang saling bertentangan satu sama lain. Seorang Tionghoa menyatakan keheranannya, kenapa ummat Islam berselisih menetapkan tanggal 1, padahal di tradisi mereka bisa memperhitungkan suatu saat di mana gravitasi sedemikian rupa sehingga sebutir telur bisa bediri tegak.

Ternyata masalahnya bukan di situ, secara kuantitif hasil pengukuran ulama ahli hisab maupun ulama ahli rukyat sebenarnya memang tidak ada perbedaan, kalaupun ada itu hanya minor saja.
Lalu masalahnya di mana? Pangkal soalnya perbedaan penetapan tanggal satu Syawal itu bukan pada hasil perhitungannya tetapi lebih kepada perbedaan interprestasi karena perbedaan kriteria yang dipakai.

Ada beberapa mainstream aliran interprestasi, diantaranya adalah aliran "wujudul hilal" dan aliran "rukyatul hilal".

Wujudul Hilal, pedomannya "Jika setelah terjadi ijtimak (bulan bertemu matahari di suatu garis), bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam". Jadi yang penting posisi bulan sudah diatas ufuk, nggak peduli hilal terlihat atau enggak (catatan: hilal itu bukan bulan keseluruhan tetapi bagian bulan yang terkena sinar matahari yang terlihat dari bumi).

Acuan aliran Rukyatul Hilal adalah "masuk awal bulan apabila hilal sudah terlihat (supaya hilal dapat terlihat tinggi bulan minimal harus di atas 4 derajad atau ebih tinggi lagi tergantung jarak antara bulan dan bumi).

Itulah pangkal masalahnya, perbedaan bukan pada akurasi hasil perhitungan tetapi pada masalah fikih yaitu kriteria yang dipakai untuk membuat interprestasi dari hasil pengukuran itu. Perbedaan terjadi karena yang satu menganggap akan lebaran bila bulan sudah diatas ufuk (berarapun asal sudah >0), yang satunya mengatakan baru berlebaran kalau hilal sudah terlihat (padahal supaya terlihat sudut minimal harus >4 derajat, saat posisi bulan di atas 0 derajad apabila masih di bawah 4 derajat, kecil kemungkinannya bis aterlihat). Nah, pada waktu matahari tenggelam ketinggian bulan di bawah 4 derajat inilah yang selalu memicu kontroversi dalam penentuan awal bulan. Perbedaan akan terjadi terus selama belum ada kesepakatan tentang kriteria yang dijadikan acuan. Rembulan di atas ufuk-kah atau hilal terlihatkah?
Di samping yang menggunakan acuan penampakan bulan, juga ada juga yang menggunakan perhitungan kalender seperti ABOGE atau "1 Suro tahun Alip jatuh pada hari Rebo Wage" (yang sejak 19 Oktober 1982 berubah menjadi ASAPON atau "1 Suro tahun Alip jatuh pada hari Selasa Pon) . Perhitungan ini juga menghasilkan hari 1 Syawal yang lain lagi. Untuk yang terakhir ini memang tidak diterima oleh ulama fikih, sehingga hanya dipergunakan secara terbatas.

Untuk kita yang awam bagaimana?

Idealnya sih ada kesepakatan para ulama mengenai kriteria tersebut (pilih salah satu: yang di atas ufuk atau rembulan/hilal terlihat atau kriteria lain). Emang supaya sama, tidak ada pilihan lain harus pilih salah satu, sehingga mau nggak mau harus ada yang ngalah. Itulah kenapa penyatuan saat berlebaran itu suatu hil yang mustahal terjadi di negara kita ini.

Ada juga pendapat, sebaknya mengikuti lembaga yang paling punya otoritas untuk menetapkan, yaitu Pemerintah, tetapi ini juga ada tentangan kenapa untuk urusan beginian pemerintah harus turut campur. Emang di negara lain dimana umat Islam minoritas, keputusan Pemerintah mengenai awal puasa dan lebaran selalu dipatuhi (mungkin karena sebagian besar rakyat tidak terpengaruh langsung), Indonesia yang muslimnya mayoritas keputusan pemerintah mendapat tentangan. Padahal kesamaan hari raya itu sebenarnya sangat diperlukan untuk mengatur aktivitas pelayanan publik. Perbedaan waktu sholat tidak banyak berpengaruh terhadap kegiatan publik, tetapi perbedaan hari raya/lebaran besar pengaruhnya terhadap pelayanan publik, karena di waktu libur kliring perbankan, transaksi internasional, aktivitas pasar modal, jam kantor, sampai angkutan umum di hari seputar lebaran harus diatur ulang.
Tetapi semua terpulang hati masing-masing, karena fatwa ulama sekalipun, sebenarnya hanya mengikat orang yang meyakini, kita tidak wajib mengikuti kalo nggak yakin dan melanggarnya juga tidak bisa dikenakan sangsi. Lain halnya fatwa lain halnya QANUN seperti di Nangroe Atjeh

Silahkan bagi yang ingin mendalami masalah ini, link-link yang dapat dilayari:
http://www.as.itb.ac.id/~ferry/Articles/HilalVisibility/HilalVisibility.html
http://media.isnet.org/isnet/Djamal/almanak.html
http://rukyatulhilal.org/

Sabtu, 13 Oktober 2007

Selamat Idul Fitri 1428 H


kepada anda yang merayakan,
selamat idul fitri 1428 h
"taqaballahu minna wa minkum, taqabal ya karim"
semoga allah menerima ibadah ramadhan dan merahmati anda.
untuk seluruh pembaca:
mohon maaf lahir dan batin.

Kamis, 11 Oktober 2007

Tamu itu akan segera berlalu

Tamu itu akan segera undur diri... meninggalkan kita dan tidak akan pernah kembali lagi .. Ya... Ramadhan tahun ini akan segera berlalu...
Tidak ada diantara kita yang bisa memastikan apakah bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan.. kalaupun bisa bertemu itu pasti bukan Ramadhan tahun ini, karena ketika itu sisa umur kita sudah berkurang satu tahun sehingga kita tidak lagi semuda sekarang...
Dalam rentang kehidupan ini, Ramadhan demi Ramadhan berlalu. Seseorang yang di tahun lalu masih terlihat bersama kita, di Ramadhan kali ini sudah pergi selamanya. Boleh jadi seseorang yang di Ramadhan ini masih bisa kita ajak tawa canda, di tahun depan sudah tidak dapat kita jumpai lagi....
Seperti halnya mereka, kita juga akan sampai pada Ramadhan yang terakhir yang kita belum tahu kapan itu. Mustahil kalau terjadi seratus tahun lagi, paling lama hanya beberapa puluh tahun lagi, bisa saja hanya belasan tahun lagi, bahkan sepuluh tahun lagi, lima tahun lagi, satu dua tahun lagi... atau bisa juga tidak ada orang yang tahu kalau ini adalah Ramadhan terakhir yang masih bisa kita alami...
Para sahabat Kanjeng Nabi bersedih ketika Ramadhan akan berlalu, karena harus berpisah dengan bulan suci yang didamba kehadirannya. Seperti tidak merasa lelah mereka berlomba memanfaatkan saat ijabah penuh berkah yang ada di dalamnya, penuh gairah mengisinnya dengan aktivitas ibadah dan amal saleh untuk meningkatkan ketaqwaan, mengasah kepekaan nurani dan membangkitkan kepedulian terhadap penderitaan sesama...
Sebulan Ramadhan belum cukup waktu bagi mereka dalam menghapus rindu, sebulan terlalu singkat untuk meraih berkah dan hikmah bulan mulia. Maka ketika Ramadhan itu berlalu, mereka melepas kepergiannya dengan air mata haru, setumpuk sesal yang menyesak dada karena merasa masih ada saja waktu yang ter buang waktu sia-sia selain untuk beribadah dan berkarya untuk meningkatkan derajad taqwa..
Satu-satunya harapan yang tersisa hanya doa hanya agar bisa diperkenankan bisa bertemu dengan Ramadhan tahun berikutnya, walaupun dalam waktu sisa umur yang berbeda, dalam kondisi fisik yang makin menua, tetapi berharap untuk mampu dan mau mengisi bulan Ramadhan dengan lebih baik lagi.
Pada sisi lain.. di bulan Ramadhan setan dan iblis dibelenggu. Bagi setan Ramadhan adalah memberatkan, keberadaannya adalah beban, waktu sebulan juga terasa lama. Perpisahaan dengannya menimbulkan rasa lega, sehingga akhir bulan mereka sambut suka cita karena akan terbebas dari penjara. Harapannya, jangan sampai cepat-cepat bertemu kembali lagi dengan Ramadhan.
Inikah yang saat ini ada di benak kita? Kalau demikian barangkali inilah salah satu cermin yang mampu memberikan gambaran secara jujur diri kita sesungguhnya...
Naudzubillahi min dzalik....

Senin, 08 Oktober 2007

Masuk sorga nggak ngajak tetangga

Yang punya otoriitas menerima atau menolak ibadah itu Gusti Alloh. Yang menetapkan anda besok dijebloskan ke dalam neraka atau mau diangkat ke surga itu ya Gusti Alloh juga. Manusia cuma diberi petunjuk lewat orang yang dipilih serta diberi akal dan nurani untuk menimbang dan memilih mana yang paling baik. Akalpun sangat terbatas kemampuannya, nurani juga bisa tercemar oleh hawa nafsu, sehingga mungkin juga justifikasi manusia ternyata salah. Karenanya manusia hanya diwajibkan untuk berusaha dan harus selalu mohon petunjuk jalan yang lurus (minimal 17 kali sehari semalam). Ewadewe (eh basa Indonesianya apa ya) ternyata justifikasi salah… Gusti Alloh pasti tahu dan menilai seadil-adilnya terhadap apa yang telah kita lakukan, dan apa yang kita pikirkan sepanjang itu sudah sesuai dengan akal dan nurani kita masing-masing….
Telah lama ada sekelompok pengajian di lingkungan saya di bilangan Komplek Perhubungan Rawamangun. Saya nggak bisa mengatakan atau menghakimi mereka itu sesat (walaupun ada lembaga yang menyatakan seperti itu), karena emang enggak tahu persis apa sebenarnya yang diajarkan di pengajian mereka itu Sebagai orang luar hanya melihat hal-hal yang agak aneh menrut azas kepatutan dan logika berpikir saya.
Seseorang mengadakan pengajian atau bahkan kebaktian agama lain di dekat rumah saya bukan suatu yang jadi masalah besar, lha wong ada orang yang hajatan pasang sound sistem ribuan wot dan nanggap band-pun juga nggak terlalu merisaukan, yah minimal bisa memaklumi lah. Toh acara itu tidak digelar tiap hari, sebulan sekali atau lebih lama dari itu. Tetapi kalau kehadiran sebuah kelompok pengajian itu hampir tiap hari tentu lain masalahnya. Emang sih.. namanya rumah pribadi adalah privasi, tapi mau tidak mau kehadiran kelompok itu mengganggu keadaan lingkungan luar rumah, misalnya saja jalan yang dipenuhi parkir kendaraan, tidak jarang juga menimbulkan kebisingan di tengah malam ketika orang tengah enak-enak beristirahat entah orang teriak-teriak atau motor yang rame-rame distarter di tengah pemukiman. Entah karena peraaa saja atau ada unsur sentimen rasanya ada arogansi dan sama sekali tidak menenggang rasa dengan penduduk sekitarnya. Seandainya agak ribut dan bising, orang akan masih maklum kalau tempat yang digunakan itu memang dikhususkan untuk ibadah bukannya rumah tinggal yang dialih fungsikan jadi tempat seperti itu..
Apalagi sepertinya ada ketertutupan aktivitas mereka. Katanya menyebut dirinya kelompok pengajian dan mereka tahu kalau tetangg banyak yang Islam sama degan mereka…. kenapa mereka semua bukan orang sekitar dan tetangga tidak ada yang pernah dijawil… Maaf… bukannya saya mau celamitan melibat-libatkan diri dan mau tahu urusan orang. Tetapi mereka kan dilingkunganku dan saya juga berhak menerima ilmu agama yang mereka ajarkan karena agama kita juga sama. Bukannya ilmu agama itu harus disampaikan kepada siapa saja yang mau menerima Islam walaupun cuma satu ayat, dan aktivitas itu termasuk hal yang sangat diajurkan. Apakah mereka itu sedemikian ekslusif sehingga yang tidak bercelana cingkrang tidak boleh masuk wilayah peribadatan mereka. Apakah hanya mereka yang masuk surga karena yang lain adalah 69 golongan yang tidak diterima... Naudzubillahi min dzalik kalau emang begitu...
Katanya Islam itu rahmatan lil' alamin, kalau orang semakin intensif mempelajari Islam harusnya makin ramah, makin baik sama tentangga, makin tawadhu', makin bisa menjaga perasaan orang lain, makin mampu mencegah dari perbuatan tercela seperti mengganggu tetangga....
Rasanya selama ini nggak ada hambatan berarti bagi saya untuk ngaji dan menggunakan tempat ibadah kelompok yang sangat fundamental sekalipun juga sebaliknya nggak ada hambatan untuk hadir di kelompok yang menamakan dirinya liberal sekalipun…
Kenapa mereka kok menutup diri sehingga ada pertanyaan yang menggantung dan semakin menimbulkan banyak kecurigaan… apa enaknya jadi anggota pengajian itu lha kok sampai masuk sorga saja nggak mau ngajak-ajak tetangga...

Sabtu, 15 September 2007

Kebimbangan kang Basir

Siang itu kang Basir mau Jumatan… ketika mendekati bibir sumur kerekan, didengarnya suara dari dalam sumur. Bener juga... di situ ada seekor kucing yang tengah berjuang melawan maut karena akan tenggelam.
Kang Basir dituntun oleh hati nuraninya untuk menolong si kucing. Tetapi sumur itu cukup dalam, cukup sulit bagi kang Basir untuk bisa meraih dengan tangannya, kebetulan nggak ada tangga, jadi satu-satunya jalan yang paling mungkin hanya menimbanya kemudian mengereknya ke atas.
Namun rupanya si kucing itu tidak menyadari (lha wong kucing kok suruh sadar gimana) bahwa kang Basir sedang berusaha menolongnya. Begitu badannya masuk timba dan terkerek naik, si kucing justru meronta-ronta.. tentu saja akibat ulahnya itu kucing jatuh kembali... Byuuur... Menjengkelkan sekali, sudah susah payah ditolongin, si korban bukannya ikut mbantu malah bikin susah saja. Seandainya si kucing koperatif, sebenarnya upaya evakuasi itu tidak makan waktu. Tapi gara-gara kebodohannya (mana ada kucing pinter kecuali di kartun) evakuasi memerlukan waktu yang cukup lama, dan berakhir setelah si kucing mulai kehabisan tenaga. Kang Basir segera mengeringkan badan si kucing dengan mengelapnya pake saputangan, lalu mengangin-anginkan di tempat yang agak teduh… eeee… begitu merasa segar kembali... si kucing langsung meloncat lari, tanpa ada isyarat menyatakan terima kasih, justru sepertinya memandang curiga sama kang Basir, dianggap ia sebagai biang masalah… dasar kucing garong loe….
"Astaghfirullah", kang Basir baru menyadari bahwa Jumatan di masjid sudah usai. Ada galau di hati Kang Basir, ternyata karena seekor kucing yang tidak mau berterima kasih itu telah menyebabkannya tidak menjalankan suatu kewajiban rutin yang tidak pernah dilewatinya entah sejak kapan.
"Duh Gusti Alloh…. aku siap menerima azab dan murkaMu karena telah mengabaikan perintahmu", kang Basir bergetar hatinya hingga berkeringat dingin karena merasa telah melakukan kesalahan yang tidak bisa dimaafkan.
Kang Basir terkena takdirnya, seandainya tadi ia pergi Jumatan lebih awal maka akan masih cukup waktu setelah evakuasi bisa langsung Jumatan.. andai yang lain kalau tadi tidak wudhu di sumur itu, maka ia juga tidak perlu menolong si kucing dan Jumatane nggak bolong.
Apapun, dosa telah terjadi dan baginya itu bisa tidak bisa dimaafkan, bahkan juga nggak bisa dikorting dengan dalih menolong nyawa makhluk ciptaan Gusti Alloh. Memang... makhluk yang ditolong itu hanya seekor kucing, liar lagi artinya bukan peliharaan katrena itu keberadaannya tidak dikehendaki oleh manusia, warna dan bodinya juga nggak seksi, bulunya nggak klimis, kurapan, juga "cluthak" hingga lebih sering jadi pengganggu ketimbang sahabat, mungkin kecemplungnya juga karena ulah sendiri. Namun.. seejelek apapun si puss meong, mau liar kek, bulu jelek kek, kurapan kah, tidak seksi lah, clutak dan seterusnya adalah atribut wadag belaka, sedangkan yang menjadi sebab hidup di tubuhnya tetap Ruh yang milik Gusti Alloh...
Mungkin sekali tadi kang Basir bisa Jumatan kalau membiarkan saja si kucing itu mati tenggelam… namun ia juga merasa bersalah karena setara dengan pembunuh membiarkan makhluk mati tenggelam sementara ia mampu untuk menyelamatkannya. Tetapi amal kebajikan bukan sesuatu mudah diukur oleh manusia, hanya Gusti Alloh saja yang bisa mengukur dengan sempurna. Antara satu kewajiban dengan kewajiban lain juga tidak bisa diperbandingkan. Antara sholat Jumat dengan menolong nyawa juga tidak dapat dibuat skala prioritas. Jumatan adalah fardhu `ain sementara menolong kucing adalah fardhu kifayah dimana itu adalah dua hal yang berbeda.
Kemuliaan Gusti Alloh pasti tidak akan berkurang sedikiiiiitpun seandainya tidak ada orang Jumatan sekalipun, apalagi cuma gara-gara Kang Basir saja. Jadi dalam peristiwa itu yang paling rugi tidak Jumatan kang Basir sendiri. Kang Basir bersalah, maka ia juga yang akan menerima murka dari Gusti Alloh. Namun seandainya tadi si kucing tidak ditolong, orang sekampung juga mendapat murka Gusti Alloh karena ada warganya yang membiarkan binatang mati tenggelam sementara sebenarnya seorang warga bisa melakukannya. Seberapa besar murka Gusti Alloh... itu bukan domain manusia.
Karena bukan domain dia untuk mengetahui dan menimbang dosa dan ganjaran yang akan diterima atas pilihannya ataupun tindakan yang telah dilakukannya... pilihan satu-satunya hanya berdoa, mohon perlindungannya mudah-mudahan Gusti Alloh terus menuntun hati nuraninya untuk memilih jalanNya dan mengampuni apabila ternyata ia memilih jalan yang tidak sesuai dengan kehendakNya …
Wallahu a'lam...

Kamis, 08 Februari 2007

Kuasa Tuhan, alam dan usaha manusia

Pagi-pagi ustad Mukidin sudah ceramah tentang bencana yang sepertinya tiada henti-hentinya melanda bangsa ini.
"Hukum alam atau bahasa agamanya sunatulloh itu berlaku kaya iklan Coca Cola ‘di mana aja kapan aja untuk siapa aja’. contohnya air di dalam gelas ini, sekarang berujud cair, kalau didinginkan akan beku, kalau dipanaskan akan jadi uap. Di kutub, katulistiwa, puncak gunung, pinggir pantai, ditangan orang Arab, Cina, Eropa, India, Jawa, Sunda, Batak, Madura, dipegang orang Islam, Suni, Syiah, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, Dharmo Gandhul - Gatholoco atau kapir sekalipun ‘sami mawon’, segelas air kalo didinginkan sampai di bawah nol derajad akan beku jadi es batu, es batu dipanaskan jadi cair, kalau digodog terus sampai pada suhu 100 derajat akan mendidih jadi uap" gak peduli yang pegang siapapun kapanpun dan dimanapun.
"Nambahi sithik pak lik.. seperti itu lak kalau tekanan udaranya 1 atmosfir atau 760 mm air raksa ta.. kalau tekanannya beda ya sedikit beda ta pake", sergah si Entong Ade keponakan ustad Mukidin yang sekolah di SMP.
"Ini kan gampangannya omong aja to Tong", Ustad lalu melanjutkan dengan gaya persis presenter Tukul Arwana di TV, "Mari kita kembali ke… laptop….
Iya gara-gara kamu nih..aku jadi lupa sampai di mana tadi. Oh iya... tadi kalo contonya air, nah bagaimana kalo diganti minyak, besi, batu, lilin atau benda lain… yakin mboloqin haqqul yaqin pak solikin juru mesin… maka akan menghasilkan kesimpulan bahwa dimanapun, kapanpun oleh siapapun asalkan perlakuannya sama hasilnya ya sama. Itulah yang disebut orang hukum ‘keseragaman alam’.... artinya apapun dan siapapun kita, bagaimanapun cara kita menyebut, dimanapun dan kapanpun Dzat yang menanungi tetep sama. Lebih khusus lagi… apapun agamanya… Tuhan kita itu sebenernya dzat yang sama, soalnya kalau Tuhan kita beda, maka sifat benda ditangan kita juga akan beda tergantung Tuhan kita juga. Misalnya Tuhan A, berkehendak es dingin, Tuhan B berkehendak es sangat panas, dan Tuhan C bisa saja berkehendak anget-anget kuku…".
"Ust… kalau beneran Tuhan itu banyak lak berarti dunia ini malah jadi rusak, aturannya plating sladur kaya negarane dhewe ini", kata Tomejo.
"Leres… kang… karena semua alam gumelar ini dalam kuasa dzat yang tunggal, maka mobah-mosik apapun di dunia ini bisa terjadi atas kuasa dzat yang satu yang biasa disebut Tuhan dengan segala sebutannya itu, maka jadinya alam ini seragam... nggak kacau atau ruwet", ustad Mukidin semakin berapi-api kaya kompor minyak tanah habis ditambah pompaan.
Kadirun nimpali, "Kang Ustad... katanya di dunia ini ada pertarungan antara yang baik dan buruk. Yang baik itu katanya kuasa Tuhan yang buruk kuasa setan. Lalu ada lagi yang menyebut kekuatan alam, katanya sekarang ini banyak bencana, karena kehadiran seorang pemimpin di negeri ini tidak diterima oleh alam?"
Ustad meneruskan, "Emang bener Run… ada kuasa setan, tetapi setan juga hanya bisa berbuat setelah mendapat 'dipensasi' dari Yang Maha Kuasa juga, setan emang diberi ijin untuk mbujuk manusia yang mau ditipu untuk jadi 'bolosetan'. Alam emang punya kekuatan, tetapi pasti tunduk pada sunatulloh, jadi wala-wala kuawatoa ila billah, nggak ada daya dan kekuatan kecuali yang satu. kalau begitu.. bila di negeri ini ada sesorang terpilih jadi pemimpin itu kuasa siapa?.... pasti kuasa Tuhan. Terus.. bila pada suatu masa negeri sering terjadi bencana itu juga kuasa siapa?... pasti Tuhan juga khan.
Nah lho… dua-duanya ternyata kuasa Tuhan... mocok ce... Tuhan bertindak dengan kuasa menggerakkan alam untuk menimbulkan bencana adalah sebagai reaksi atas seseorang yang jadi pemimpin (yang terjadi juga akibat kuasaNya juga). Apa iya Tuhan tidak konsisten atau mencle-mencle begitu".
"Tapi kenapa sejak kita punya pemimpin yang sekarang… kok sering mengalami bencana, bahkan sepertinya nggak ada putus-putusnya? Apakah bencana dan musibah itu semua takdir gitu ya... pak Ustad", tanya mas Andri.
"Tepat mas… tapi perlu diperjelas dulu…. takdir itu apaan sih?", lanjut Ustad Mukidin, "Apakah anak yang malas belajar lalu ulangannya dapat nilai jelek itu juga takdir? Adakah seorang pemalas lalu mengalami kesulitan dalam hidupnya itu juga takdir, apakah orang yang numpak kendaraan byayakan lalu nabrak itu juga takdir? Pasti… manusia harus percaya takdir, tapi kan nggak boleh hanya tergantung takdir saja. Buktinya Tuhan juga tidak mau mengubah nasib kalau kita sendiri tidak berusaha mengubahnya.
Punya IQ tinggi, cerdas, ganteng, kuntet, bogel, dan sebagainya itu takdir. Lahir dari keluarga kaya itu takdir, jadi orang Jawa, Sunda, Betawi, Batak, Melayu, Madura, dll itu takdir. Tetapi seperti nilai ujian, sakit atau sehat, susah atau senang dalam hidup, bahkan juga mau masuk neraka atau surga itu juga banyak tergantung usaha masing-masing, nggak bisa diserahkan takdir begitu saja".
"Oh begitu ya pak ustad... lalu apa hubungannya antara takdir dan usaha itu?", tanya kang Tomejo sambil nyruput wedang kopinya.
Lanjut Ustad Mukidin:, "Barangkali kalau disederhanakan takdir itu diibaratkan sebagai sebuah botol atau gelas, masing-masing kita punya wadah atau gelas sendiri, emang ada yang besar ada yang kecil, ada yang mulutnya sempit tapi ada yang lebar, kita masing-masing diberi kebebasan untuk mengisinya dengan dengan apa dan bagaimana caranya. Bisa saja takdir itu digambarkan secara sederhana sebagai sebuah rumus atau program komputer. Memang masing-masing orang punya rumus atau program sendiri, ada simpel ada yang njlimet, tetapi masing-masing punya kewajiban untuk mengisi input variabel-variabelnya sedemikian agar mendapatkan hasil akhir atau outcome yang optimal.
Contohnya, jantung kita ditakdirkan punya kekuatan tertentu dan umur teknis sekian puluh tahun. Kalau kita sering mempergunakan melebihi batas kemampuan, misalnya sering marah-marah serta kurang memperhatikan cara perawatannya seperti makan sembrono dan jarang berolahraga, maka jantung kita itu akan cepat ‘mbrebet’ bahkan bisa rusak lebih cepat dari umur teknis yang telah ditentukan sebelumnya.
Contoh lain, kalau kita punya IQ pas-pasan, tapi rajin belajar dan mengasah otak, mungkin bisa lebih pinter atau minimal menyamai yang IQ-nya lebih tinggi... Tul nggak dulur-dulur...
Bagaimana sederek-sederek udah paham belum???
Lho piye ta iki… kok malah pada meneng wae… jangan-jangan malah pada turu kabeh?
Ya wis lah… nek mboseni, saya tutup aja pengajian kali ini. Kalau sekarang sampeyan setuju dengan saya... bahwa banyak bencana seperti saat ini bukan karena seseorang diangkat jadi pemimpin, maka jangan mempertanyakan layak tidaknya seorang pemimpin dari bencana yang beruntun ini. Menilai kinerja pemimpin itu harusnya ya dari kapabilitas dalam mengatasi masalah, kemampuan bertindak tegas melawan ketidak adilan, kemampuan mencegah kerusakan sehingga mampu menyelamatkan rakyat dari kehancuran, kemampuan untukmengajak rakyat lepas dari segala kesulitan, mampu untuk lebih meningkatkan kesejahteraan rakyat Bukan wacana tapi nyata, bukti bukan janji. Kalau parameter tadi hnggak memenuhi harapan kita boleh "menggugat"-nya .. lha wong dulu yang menjadikan dia sebagai pemimpin ya kita juga kok…
Lalu soal bencana … untuk bencana atau musibah yang disebabkan oleh kesalahan "mengisi variabel rumus" .. solusinya ya perlu diluruskan. Kalau bencana banjir terjadi karena salah menata lingkungan, maka kesalahan itulah yang harus dikoreksi. Namun seandainya emang rumus aslinya yang kurang menguntungkan, hanya satu cara yang bisa dilakukan, yakni mengajukan "amendemen' melalui do'a kehadapan sang Pembuat Rumus…..

Grubyak... loh... nggak tahunya ini tadi cuman ngimpi dan saya bangun kesiangan karena capek jaga banjir...

Selasa, 16 Januari 2007

kehadiran Allah di sekitar kita


Bahwasanya Allah lebih dekat ke diri kita dibanding urat leher sendiri. alam ini juga dalam kuasaNya. alam ini dicipta hanya untuk bertasbih dan bersujud kepadaNya. maka dari itu gelaran alam merupakan tanda kebesaran dan kekuasaanNya.

Alam dan seluruh ciptaanNya selalu tunduk kepada ketentuan yang disebut Sunatullah. Tumbuhan dan hewan berkembang sesuai siklus hidupnya masing-masing, benda langit berjalan pada orbit masing-masing, semua membentuk sistem yang harmonis. kalau ada upaya suatu titik dalam orbit yang ingin keluar dari lintasan, maka akan menggeser keseimbangan lama menuju suatu keseimbangan yang baru. proses ini bisa menyebabkan kekacauan atau bahkan chaos di sebagian atau keseluruhan sistem.

Bisa jadi terjadinya bencana alam yang selama ini kita lihat dan rasakan adalah akibat adanya upaya manusia --yang diberi mandat menjadi wakil Tuhan di muka bumi--- berbuat aniaya atau dzalim yaitu ingin lepas dari orbit yang sudah ditetapkan. upaya penyangkalan, sekecil apapun kalau tidak terkendali akan berpotensi menimbulkan akibat yang yang sangat besar sehingga di luar kekuasaan manusia yang semula merasa sudah sangat perkasa...

Kalau demikian, masih perlukah Tuhan menunjukkan eksistensinya hanya melalui lafadz
seperti di api ledakan pipa gas Pertamina di Porong? Orang boleh berdebat mengenai hal ini tetapi sebenarnya tanda kakuasaanNya tidak hanya ditunjukkan oleh bentuk lafal di api itu saja, proses ledakan itu saja sudah merupakan salah satu tanda kekuasaanNya, bahkan semburan lumpur panas di dekar sumur pengeboran milik lapindo brantas yang menenggelamkan beberapa desa di beberaoa kecamatan itu juga sudah merupakan bukti kekuasaanNya.

Memang lafal Allah bagi kaum muslimin adalah sesuatu yang sudah masuk di bawah sadar, sesuatu yang sangat berpengaruh terhadap kondisi psikologis.
Itu merupakan hal wajar, karena sejak lahir, pertama kali orangtua kita mengumandangkan adzan di kuping kita. kata pertama dalam adzan yakni takbir atau pernyataan kebesaran Allah, maka itulah kata pertama yang terdengar oleh telinga kita. dalam sehari-semalam umat islam wajib takbir minimal 85 kali dalam sholat yang kita jalankan. di sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa ini, takbir berkumandang bertalu-talu ketika arek-arek Surabaya dan bocah Jawa Timur bertempur berani mati melawan belanda di kota Surabaya. Melalui corong RRI Bung Tomo juga terus mengumandangkan pekik keramat itu. Kitapun yang sehari-hari tegar di kala menapaki kehidupan yang keras, langsung berubah menjadi melankolis romantis, bahkan menangis berderai air mata dikala mendengar kumandang takbir di hari raya... itulah kekuatan takbir...

Saya ingat ada test psikologi dimana harus memberi komentar atas gambar percikan tinta tak beraturan di selembar kertas. boleh saja orang berteori, lafad Allah di gelombang tsunami Srilangka beberapa tahun yang lalu atau pada api ledakan pipa gas di lapindo ini hanya effek psikologis seperti dalam test itu. bisa jadi itu hanya suatu kebetulan belaka.
Namun demikian, apapun persepsi anda tentang buih gelombang tsunami, semburan lumpur atau api ledakan pipa gas itu... itu adalah bukti nyata tentang eksistensi Allah yang menunjukkan kekuasaanNya di dihadapan kita…. Tergantung kepekaan kita untuk menangkap pesan yang disampaikan...
wallahu a'lam