Sabtu, 02 Juli 2005

Kereta 1910


Kamis 30 Juni 2005, siang hari stasiun televisi METROTV menyiarkan filem dokumenter tentang kecelakaan kereta api di Indonesia. Tragedi kereta api terbesar yang tercatat di sini adalah tabrakan KA255 dan KA220 di dekat stasiun Sudimara, Bintaro yang terjadi tanggal 19 Oktober 1987. Peristiwa itu terjadi persis pada jam sibuk orang berangkat kantor, sehingga jumlah korban juga besar sangat besar yakni 153 orang tewas dan 300 orang luka-luka. Tabrakan itu juga melambungkan nama Juned, seorang bocah lelaki berumur 8 tahun yang selamat dari tragedi itu. Ia harus kehilangan nenek yang menjadi satu-satunya gantungan hidupnya, di samping nenek ia juga kehilangan adik satu-satunya dan sebelah kakinya. Berkah dari tragedi yang tidak pernah diharapkankan, bocah Juned yang semula bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa tiba-tiba wajahnya menghiasi seluruh media massa sehingga menjadi terkenal di mana-mana. Kemudian bapak dan emaknya yang semula cerai, sepakat untuk rujuk kembali membesarkan Juned dalam sebuah keluarga yang utuh. Kemudian ketika tragedi itu dikomersialkan ke layar lebar, Juned juga menikmati sejumlah uang.
Namun keterkenalan maupun sedikit uang yang dinikmati itu, ternyata tidak pernah berhasil mengubah nasibnya. Beberapa tahun kemudian uang yang diperolehnya ludes karena usaha ayahnya yang bangkrut. Juned juga ternyata tidak berumur panjang, tahun 2002 lalu masih dalah keadaan serba berkekurangan dalam usia yang masih sangat muda (22 tahun), Juned dipanggil sang Khalik untuk menyusul nenek dan adiknya. Akhirnya kisah Juned-pun tenggelam, bahkan di tayangan MetroTV siang itu juga tidak terungkap.
Masih dari tragedi Bintaro, ada kisah sedih yang dialami Slamet Suradio. Ia adalah masinis KRL255 yang selamat, namun ia harus menanggung nasib buruk yakni dipecat dari pekerjaannya, maka ia memilih pulang ke kampung halamannya menjadi petani di Purworejo sana. Kini ia menapaki masa senjanya dibalut kemiskinan dan menanti seberkas sinar terang untuk memperoleh pengakuan atas jerih payah pengabdian selama lebih 20 tahun di atas roda besi. Nasib yang serupa juga menimpa seorang mantan pengatur sinyal kereta api (Umriadi?), yang juga dinyatakan bersalah dan kini menapaki masa tua juga dengan penuh penantian. Meskipun setelah melalui banding, ia sudah diputus tidak bersalah , namun hingga kini hanya bisa menunggu datangnya mukjizat untuk memperoleh pengakuan atas pengabdiannya selama lebih dari dua puluh tahun. Badan ringkih itu kini acapkali nampak ada di stasiun Rangkas Bitung, sekedar untuk nostalgia dan tentu saja memperoleh belas kasihan kolega yang juga sama-sama pantas dikasihani.
Rupanya tragedi Bintaro belum cukup, sehingga pada penghujung tahun 2001 lalu terjadi dua kecelakaan kereta api Empu Jaya yang terjadi hanya berselang 3 bulan. Tanggal 2 September 2001 tabrakan KA Empu Jaya dengan KA Cirebon Ekspres dan tanggal 25 Desember 2001 tabrakan KA Empu Jaya dengan Gaya Baru Malam. Mohammad To'ad (masinis Empu Jaya yang bertabarakan dengan KA Gaya Baru) dianggap tidak mengindahkan sinyal maka ia harus dipecat. Sementara Suwanto (masinis KA Empu Jaya yang bertabrakan denga KA Cirebon Ekspres), meskipun menurut visum dokter ada indikasi pada waktu kejadian mengalami serangan jantung, tetapi sudah dicap bersalah, mantan masinis teladan inipun harus dipecat. Apakah mereka itu memang benar-benar bersalah atau hanya kambing hitam?
Berderet tragedi telah diukir oleh perjalanan kereta api di atas rel-nya tetapi maaf bangsa ini cepat menjadi lupa saking banyaknya tragedi, bencana dan teror yang harus diingat. Kereta api memang berjalan pada jalurnya tersendiri yang dilindungi undang-undang, tetapi apakah ia alu tidak bisa dipersalahkan karena nyatanya ia juga tidak mampu melindungi dirinya sendiri. Apakah kereta api yang dianggap sebagai kendaraan paling aman itu, di tangan bangsa carut marut ini akan berubah menjadi mesin pembunuh? Akankah ini akan menjadi pelajaran atau akan segera dilupakan, karena toh di Amagasaki Jepang-pun kecelakaan juga terjadi (25 April 2005)
Baru saja acara dokumenter itu usai…ada berita, baru saja sebuah panther ditabrak kereta Sancaka di Teguhan Madiun.. entah suatu kebetulan atau tidak... disusul dengan tabrakan antara KRL585 dan KRL583 di Pasar Minggu. Kalau dibanding tragedi Bintaro limabelas tahun lalu atau tragedi Empu Jaya tiga tahun lalu memang bukan apa-apanya, namun dua-tiga nyawa juga pastilah sangat berarti bagi keluarga dekat yang ditinggalkannya. Pasti tabrakan itu juga akan disusul dengan kisah pilu para korban, keluarga maupun para pelaksana di lapangan. Tragedi Bintaro melambungkan Juned, Slamet Suradio atau pengatur perjalanan kereta api namun yang pasti tidak banyak berpengaruh terhadap Rusmin Nuryadin (Menhub ketika itu). Tabrakan di pasar Minggu ini juga hanya akan membawa kisah pilu tentang Bunga, Ade Darmawan, Steven atau lainnya.
Maka kita hanya terharu mendengar kata-kata Iwan Fals dalam lagu "Kereta 1910":
















Apakabar kereta yang terkapar di senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata, air mata
Belum usai peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah
Air mata, air mata
Berdarahkah tuan yang duduk di belakang meja
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa aku bosan
Lalu terangkat semua beban di pundak
Semudah itukah luka-luka terobati
Nusantara tangismu terdengar lagi
Nusantara derita bila terhenti
Bilakah bilakah
Sembilan belas oktober tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah
Air mata air mata
Nusantara langitmu saksi kelabu
Nusantara terdengar lagi tangismu
Nusantara kau simpan kisah kereta
Nusantara kabarkan marah sang duka
Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab luka sudah tak lagi panjang

Kamis, 28 April 2005

Kang Rusik

Sejak pertama mengenal kang Rusik seperti tidak ada perubahan pada dirinya. Umurnya seperti tidak pernah bertambah, tubuh dan perawakannya seperti tidak pernah berubah. Memang kang Rusik sangat mudah dikenal, bahkan bagi yang baru pertama kali bertemu. Bukan lantaran tubuh kang Rusik gagah seperti Doni Kesuma, ganteng seperti Primus ataupun berkumis tebal seperti Andi Mallarangeng, namun kang Rusik dikenali karena bentuk fisiknya yang merupakan parodi selebritis.. Tubuhnya bogel, hanya kalah bersaing dengan Ucok Baba, rambutnya ikal keriting seperti N!xau tuh orang Afrifa yang jadi bintang “The God must be crazy”. Kepalanya relatif besar dibandingkan tubuh keseluruhan dan wajah yang “menakutkan” terutama bagi yang belum kenal, dahi menonjol, hidung pesek serta, rongga mulut yang maaf... dipenuhi gigi acak-acakan sehingga bibirnya yang sumbing makin tidak mampu menutupinya dengan baik. Suaranyapun sengau lebih parah dibanding Komeng Cihuuuiii, sehingga untuk bisa mengenali apa yang diucapkan bibir sumbungnya perlu latihan khusus. Memang orang bisa saja menilai, tidak ada kesempurnaan pada diri kang Rusik.
Sejak aku pertama kenal dia adalah sebagai gembala domba, bahkan ketika terakhir aku melihatnya ia juga sedang sedang angon wedus dombanya. Memang kang Rusik adalah identik dengan angon wedus, jarang kami menemui kang Rusik melakukan aktivitas lain seperti sekolah atau melakukan pekerjaan lain, kecuali seminggu sekali ia sedang Jumatan di masjid desa.
Domba-domba yang digembalakan kang Rusik adalah punya orang yang dititpkan kepadanya. Ia memperoleh bagi hasil kalau domba itu beranak. Domba-domba itu sudah merupakan sebagian dari kehidupannya yang sebatang kara.
Bagi kang Rusik hidup dimulai ketika bangun pagi, langsung membuka kandang domba yang menjadi satu dengan rumahnya, kemudian mengamati hewan piaraannya. Apakah jumlahnya masih seperti kemarin, apakah ada yang sakit atau ada mengalami gejala aneh lainnya. Ditungguinya sampai embun mengering baru ia mengeluarkan gembalaannya, karena embun di rumput akan membuat moncong alias congor domba-dombanya “bengooren” terkena infeksi.
Setelah itu ia lalu menggiring domba melalui jalan desa berdebu. Bunyi kaki-kaki domba seperti irama perkusi yang merdu. Kadang sambil berjalan dombanya memuntahkan butiran-butiran hitam kecil yang terserak di atas pasir jalanan desa. Kemudian ia ke padang penggembalaan. Di lereng-lereng jalan inspeksi dan kanal dombanya merumput, lalu kang Rusik asik menganyam bunga rumput sambil sesekali menengok dombanya. Setiap dombanya berlari menjauh atau mencoba memagut tanaman tetangga kang Rusik berteriak menghalaunya.
Sore hari tiba ia menggiring-domba-domba itu untuk pulang ke rumah tinggalnya yang juga merangkap kandang dombanya..
Aku terkejut bercampur bangga... ketika tahu bahwa kang Rusik mengenaliku karena ia memanggil namaku.. melambung rasanya seperti dikenal oleh seorang selebriti yang biasa tampil di media. Memang Kang Rusik dengan kesehariannya sudah seperti seorang selebriti di dusun ini. Walaupun penuh dengan segala kekurangannya, tidak pernah ada orang yang menghina, menjahilinya apalagi berniat mencelakai dia. Semua orang respek kepadanya, sebab meski kang Rusik memiliki kekurangan di bentuk fisiknya tidak pernah sekalipun ia merasa terganggu tidak pernah sekalipun ia merasa risau. Iapun tidak pernah mengharu biru kepentingan orang lain. Kang Rusik menapaki hidup ini apa adanya, ia lugu sehingga seperti tidak ada yang disembunyikan dalam kehidupannya. Bahkan sepertinya kang Rusik tidak pernah punya cita-cita atau minimal tidak pernah nampak untuk mencoba untuk meraihnya. Kitapun tidak pernah tahu apakah ia merasa bahagia.....

Rabu, 30 Maret 2005

Bom bu Minah

Sore-sore Kadirun cerita ngecuprus, ndongeng tentang Bu Minah Wadud yang jadi imam dan khotib sholat Jumat (yang tepat imamah dan khotibah… soalnya perempuan) dengan jamaah campuran lelaki dan perempuan. Menurut Kadirun, apapun alasannya perempuan nggak bisa jadi imam bagi lelaki. Alasannya, kalau perempuan jadi imamah, ketika rukuk atau sujud, makmum lakinya sulit konsentrasi karena membayangkan pemandangan indah yang tersaji di depannya... Lagian suara imam perempuan yang merdu akan

membuat makmum lelaki membayangkan Krisdayanti pakai baju seksi atau Britney Spears pake bikini.
Namun kang Tomedjo kurang setuju, karena orang sholat itu kudu konsentrasi, jadi nggak mungkinlah orang sholat bener mikir yang nggak-nggak apalagi yang mesum seperti itu.
“Lagian bu Minah iku sudah setengah baya.. dan beliau itu kompresor eh.. propessor ahli agama, jelas mumpuni di bidang itu, bacaan Quran dan Arabnya sudah pasti faseh... saya kira kok pantes-pantes saja jadi imam. Apalagi.. kalau kebetulan di situ dia yang terbagus bacaan Quran maupun ilmu agamanya, lainnya termasuk kaum lakinya yang bisa baca Quran cuma blekak-blekuk dan ilmu agamanya juga pas-pasan... apa lalu dipaksa jadi imam atau khatib dan bu Minah jadi makmumnya?. Dalam ibadah itu kedudukan laki dan perempuan itu kan sama, wong sama-sama diganjar.. kalo ingkar ya sama-sama dosa kok”.
Kang Saimo ikutan nimbrung, “Nek tak pikir-pikir.. itu kan ada hubungannya gerakan persamaan gender yang sudah ada sejak jaman bu Kartini dulu. Lha aku dengar orang Departemen Agama ada yang ahli persamaan hak gituan kok. Kalau nggak salah namanya bu Musdah Mulia yang katanya mengharamkan poligami dan usul supaya laki-laki punya massa idah juga, biar para lelaki tukang kawin tidak lagi bisa mempermainkan wanita”.
“Lho Mo.... perempuan mau nuntut persamaan apalagi? Jangan nuntut... kalau dasarnya cuma rasa iri dan cemburu saja, itu namanya mengada-ada. Laki-laki dan perempuan itu beda karena pembagian tugas. Semua pada porsinya masing-masing, nggak bisa kalau semua dibuat sama. Lelaki dan perempuan itu tetep beda, bentuknya fisiknya saja udah beda. Apalagi pada solat Jumatnya si Minah itu, mosok lelaki dan perempuan dicampur... apa nggak kebablasan namanya. Memang sih di Masjid Haram seperti itu, tapi kan nggak bisa digeneralisir, Tanah Haram nggak bisa disamakan dengan tempat lain dong. Kalau lelaki dan perempuan itu sama.. lha mbok cuti haid dan melahirkan dihapus saja, atau sekalian toilet laki-laki dan perempuan di tempat umum juga dicampur saja, biar si Saimo sering-sering pergi ke toilet..”, ujar Kadirun dengan agak geram.
“Lho bagaimana to Kadirun iki”, kata Tomedjo, “Masalahnya ini kan ngibadah solat Jumat jangan melebar kemana-mana. Memang saya juga percaya dan yakin bahwa perempuan itu beda bentuk dengan laki, sudah kodrat perempuan bisa haid dan hamil sedangkan laki nggak bisa, itu sudah dari sononya. Tapi apakah Tuhan ketika akan memberikan ganjaran sebuah amal atau hukuman dari kemaksiatan itu mempertimbangkan jenis kelamin?”.
“Lha masalahe ngene kang Djo... “, Kadirun memotong, “Hukum bagi lelaki dan perempuan itu nyatanya juga beda. Bu Minah iku rak perempuan.. konon secara hukum nggak wajib Jumatan, jadi kalau Jumatannya itu nggak sah.. bagi dia sih nggak masalah.... Tapi bagaimana dengan makmum lelakinya yang baginya Jumatan itu wajib?
Kyai Badri yang dari tadi diam saja ikut nimbrung, “Sudahlah... nggak bakalan ada habisnya. Tapi bagi saya Gusti Allah itu nggak pernah tidur.. tahu semuanya, tahu apa yang ada di hati kalian, tahu juga yang ada di hati bu Minah itu. Niat bu Minah itu mau menyempurnakan cara beragama Islam atau justru sebaliknya... itu Gusti juga tahu. Orang berpendapat sih boleh-boleh saja, justru orang memang diwajibkan mempergunakan akalnya. Agama itu akal tetapi jangan beragama dengan cara akal-akalan. Cuma kalau saya, sejauh ini seandainya mau Jumatan ternyata imamnya perempuan... rasanya kok masih lebih mantep pergi di mesjid lain di dekat situ yang imamnya laki asli. Kalau ternyata nggak ketemu juga... lebih baik ya nggak jumatan, wong kemarin saja juga nggak sholat maghrib karena macet kekunci di jalan. Wis ah... ayo udah manjing magrib tuh ... kita sholat bareng yuuuk..”

Jumat, 11 Maret 2005

Mensyukuri Nikmat

Tidak terbilang nikmat yang telah Allah anugerahkan mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut “Jika kamu menghitung nikmat Allah SWT, niscaya kamu tidak akan sanggup menghitungnya (QS 14:34). Belum nikmat yang lain seperti kesehatan, keamanan, keselamatan, derajad, pangkat, harta benda, keluarga, tanah, air, udara, alam lingkungan. “Dia juga menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu lahir batin (QS 31:20). Maka pantas puluhan kali dalam Surat Ar-Rahman Allah menyeru: “Maka nikmat Rabb kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
Masih belum cukupkah nikmat yang kita terima agar mampu bersyukur?. “Jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah kepadamu, dan jika kamu mengingkari, maka sesungguhnya adzab-Ku sangatlah pedih" (QS 14: 7). Ternyata dengan mensyukuri nikmat-pun Allah SWT masih akan memberi tambahan nikmat. Betapa Maha Pemurah Allah SWT itu.
Memang, nafsu serakah selalu menghambat langkah menuju syukur. Oleh karena itu diperlukan sikap qana’ah yaitu menerima apa adanya nikmat yang telah Allah berikan dengan berprasangka baik, bahwa semua itu adalah yang paling baik dan yang paling sesuai sesuai dengan porsi kita masing-masing. Dalam Hadist Abu Hurairah yang diriwayatkan Bukhari, Nabi Muhammad SAW berkata, "Jadilah kamu yang qana'ah, kelak kamu akan menjadi orang yang banyak bersyukur".
Lalu, apakah syukur itu? Apakah syukur itu adalah mengajak kerabat untuk makan enak atau berpesta dengan maksud untuk berbagi rasa suka dan memberi motivasi mereka dalam mengejar prestasi yang sama atau bahkan melebihi?
Bukan! Hakekat syukur sebenarnya terletak pada relasi antara “penerima nikmat” dengan “pemberi nikmat” serta pemanfaatan kenikmatan itu sendiri. Dalam pengertian itu syukur dapat dibagi menjadi tiga tingkat.
Tingkat terendah adalah syukur verbal, yakni mengucapkan “terima kasih” atas nikmat yang diterima. Dengan mengucapkan terima kasih lalu penerima lantas merasa lepas ikatan dengan pemberi nikmat dan merasa punya otonomi penuh untuk mempergunakan kenikmatan sekehendak hatinya. Inilah yang disebut syukur ritual, syukur “sopan-santun” atau “basa-basi” belaka.
Syukur yang lebih tinggi, di samping mengucapkan terima kasih juga ditambah dengan pengakuan bahwa nikmat yang diterima adalah sebuah “amanah” atau kepercayaan. Sehingga dalam pemanfaatannya keterlibatan pemberi nikmat masih diperlukan. Misalnya seseorang yang diberi nikmat tubuh yang sehat dari Allah SWT, walaupun telah mengucap Alhamdulillah namun tetap berusaha mempergunakan tubuh sehatnya untuk berbuat kebaikan atau beribadah kepada-Nya. Syukur semacam ini memang sudah baik, tetapi masih belum sempurna.
Syukur yang sempurna, di samping mengucapkan terima kasih dan merasa menerima mandat, juga dilengkapi dengan mendaya gunakan nikmat seoptimal mungkin. Misalnya mensyukuri nikmat akal budi, disamping mengucap syukur dan menjaga amanah, juga dilengkapi dengan mengasah dan mengembangkannya terus menerus dengan belajar dari segala yang tersurat maupun yang tersirat di hamparan alam ini, serta mempergunakan nikmat itu sebaik-baiknya. Cara mensyukuri nikmat sumber daya alam, disamping mengucap syukur dan mengemban amanah juga dilengkapi dengan mengeskploitasi secara optimal namun bertanggung jawab, memberinya nilai tambah agar lebih bermanfaat. Cara mensyukuri nikmat hidup disamping mengucap syukur dan menjaga amanah adalah mengisi hidup ini sebaik-baiknya sehingga tidak merugikan orang lain, bahkan sedapat mungkin memberi manfaat bagi manusia lain maupun lingkungan. Jadi syukur nikmat yang tertinggi adalah bila nikmat yang diterima itu berdaya guna bagi diri sendiri, lingkungan, maupun alam sekitar dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Memang itulah tugas manusia “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. 51:56).
Wallahu a’lam...(kangucup).

Senin, 28 Februari 2005

Provokatif dan Menggelitik

Provokatif dan Menggelitik ini adalah komentar atas sebuah cerita pendek berjudul "Tuhan, Kencan Yuk!" di situs berita Depok Metro:
Di mulut kolong bawah jembatan jalan tol lingkar luar Jakarta tepatnya di Bintara, Bekasi Barat, menjelang peringatan kemerdekaan RI ke 59, muncul gambar pahlawan tetapi bukan Teuku Umar, Imam Bonjol atau Diponegoro, melaikan Che Guevara, Kurt Cobain, John Lennon. Ketiga nama disebut terakhir memang berlainan latar belakangnya, tapi semuanya meninggalkan ajaran, karya atau setidaknya perjalanan hidup yang bisa dibilang "kiri" atau berbau kiri, ketiganya berambut gondrong dan ketiganya mengalami kematian yang tragis...
Memang kiri itu bukan tengah dan bukan kanan, bukan tengah itu extraordinary atau orang Jawa bilang “nyleneh”. Yang extraordinary itu menarik perhatian, maka ketika mencari jati diri dan agar dapat perhatian remaja sering berperilaku nyleneh. Nyentrik istilah tahun 1970-an dulu...
Tahun 1968 Majalah Sastra memuat sebuah cerpen berjudul "Langit Makin Mendung" (LMM) karya karya Ki Pandji Kusmin (KPK) yang kemudian jadi kontroversi. Siapa sebenarnya Ki Pandji Kusmin itu adalah misteri, HB Jassin (Pemimpin Redaksi) di sidang pengadilan bahkan sampai akhir hayat beliau tidak pernah membuka jati diri KPK. Isi cerpen itu bagi sementara orang memang provokatif dan menggelitik, karena digambarkan Nabi Muhammaad bosan di sorga, lalu mohon kepada Tuhan untuk cuti turun ke bawah (turba istilah populer ketika itu). Kunjungan ke kawasan kumuh di Senen Jakarta ternyata berhasil menyaksikan kebobrokan moral bangsa Indonesia termasuk pemimpin tertingginya waktu itu yakni Bung Karno...
Tiga puluh tujuh tahun kemudian, lantaran Senen sudah sumpek, setting beralih ke sebuah kamar kos yang dalam bayangan saya di daerah pinggiran Jakarta, seperti sekitar Margonda atau Kukusan di Depok sana. Mungkin karena jaman memang sudah berbeda atau karena publikasinya kurang luas karena hanya lewat website, sehingga cerpen ini luput dari perhatian. Motif kehadiran Tuhan di kamar kos itu-pun tidak jelas seperti ketika Nabi turun ke Senen. Kehadiran kali ini hanya dekat dengan dunia kos-kosan saja.... kalau nggak ngobrol, main game playsyaiton (....eh maksudnya playstation) tentu saja kencan, atau keseharian biasa remaja di kamar kos. Tetapi ada yang sedikit aneh, mengapa dunia komputer dan internet sama sekali tidak disinggung dalam cerpen ini.
Kehadiran Tuhan-pun juga agak meragukan, karena figur yang tidak jelas, satu-satunya bukti otentik hanya sepucuk surat tanpa perangko... sehingga bisa saja ditafsirkan bahwa yang hadir itu sebenarnya bukan Tuhan tetapi hanya yang dipertuhankan, tuhan-tuhanan atau tuhan jadi-jadian... atau jangan-jangan malah "...tu-han-tu… han-tu…" alias "penampakan....."
Dulu di kampung sana ada koran bahasa Jawa "Dharma Kandha" (kemudian pecah dan punya kembaran bernama "Dharma Nyata") yang terkenal sekali di kalangan akar rumput karena ramalan buntutan NALO yang konon jitu. Di koran itulah Arswendo Atmowiloto melalui tokoh Min Pedet (Pijet) menulis.. "seandainya ada pengumuman dari surga Tuhan telah mati.. apakah masih ada orang yang mau menyembah juga?"... Tulisan itu meskipun sempat jadi polemik, tidak tidak membuat Arswendo didemo atau diseret ke pengadilan. Barangkali dia tertolong dengan kata "seandainya"...
Jadi sebenarnya sudah dari dulu cerita semacam itu ada. Meskipun begitu, dalam benak hingga kini masih terpatri keyakinan, bahwa Tuhan yang sebenarnya tidak akan berkurang kemuliannya hanya karena dilecehkan oleh seorang anak manusia...
Namun masih ada pertanyaan yang akan menimbulkan perdebatan... apakah Tuhan itu masih perlu dibela???
Jawabnya terserah anda..

Selasa, 22 Februari 2005

Memahami bencana apa adanya

Bencana terjadi bukan diakibatkan oleh alam yang membangkang ataupun menyimpang dari ketentuan yang ditetapkan atasnya. Bencana justru terjadi karena alam tunduk kepada takdir Ilahi yang telah ditetapkan kepadanya.
Ketika terjadi banjir, itu akibat sunatullah bahwa air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Ketika air hujan ditumpahkan namun tidak bisa meresap ke dalam tanah sedangkan ketika akan mengalir jalannya terhalang, maka air akan mencari jalan lain dengan meluber ke kanan-kiri atau menerjang segala rintangan tanpa peduli bahwa di situ telah dihuni oleh manusia. Bumi ditakdirkan memiliki kerak dengan lempengan-lempengan yang selalu bergeser sedikit-demi dan saling desak satu sama lain, sehingga kalau desakan semakin kuat, pada suatu saat kedua lempengan akan melenting sehingga energi yang telah terkumpul bertahun-akan tahun akan dilepaskan mendadak sehingga terjadilah gempa bumi. Seperti efek domino, gempa bumi dapat mengoncang massa air laut sehingga terjadi gelombang tsunami yang menyapu daratan dan menimbulkan musibah dahsyat yang mengancam alam dan kehidupan termasuk manusia.
Walaupun sebelumnya tidak selalu bisa diprediksi dengan tepat kapan bakal terjadi, bencana umumnya bisa diterangkan logika prosesnya. Proses bencana terjadi menurut hukum-hukum Allah yang dapat dipahami oleh akal manusia, maka bencana itu bukan terjadi dengan tiba-tiba melainkan terjadi sesuai sunatullah yang berlaku padanya. Ummat yang berada di daerah bantaran sungailah yang akan mengalami bencana banjir, ummat yang tinggal di dekat patahan kerak bumilah yang akan mengalami gempa, tidak selalu ada korelasi antara kezaliman dengan bencana yang menimpa.
Dengan perspektif pemahaman seperti itu, dalam terjadinya bencana, Allah tidak kejam semena-mena meskipun memiliki kuasa untuk berlaku demikian. Karena sunatullah itu berlaku universal, bencanapun tidak pernah memilih apakah yang akan tertimpa adalah seseorang yang beriman dan banyak amal saleh ataupun orang yang ingkar dan tidak dalam hidupnya tidak pernah ada nilai kebaikan.
Hukum atau kodrat alam-pun tidak berubah hanya karena sebuah bencana, maka gempa bumi, tanah longsor, tsunami sangat mungkin akan terjadi kembali. Sungguh suatu kerugian yang sangat besar apabila kita tidak bisa mengambil hikmah atau pelajaran berharga dari bencana yang pernah terjadi, yakni untuk memahami bencana itu sendiri maupun mengantisipasi bila terjadi kembali di masa yang akan datang.

Senin, 03 Januari 2005

Di balik tsunami

Saat ini, di kantor, warung, gardu ronda, jalan, angkutan dan tempat umum berulang orang menyebut kata tsunami. Istilah itu impor, tetapi tsunami dengan korban terbesar terjadi di negeri ini. Dibandingkan bencana besar sebelumnya seperti gempa bumi Bam Iran tahun 2003 lalu dengan korban 26.271 jiwa gempa tsunami Aceh lebih banyak menelan korban. Dibandingkan sesama bencana tsunami besar seperti di Selat Sunda ketika Krakatau meletus tahun 1883 dengan korban 30.000 jiwa, maupun tsunami Jepang tahun 1896 dengan 27,000 jiwa, tsunami Aceh jauh lebih besar jumlah korbannya. Karenanya tsunami Aceh bisa disebut terdahsyat yang tercatat dalam sejarah dalam hal jumlah korban yakni lebih dari 150.000 jiwa.
Akibat tsunami di akhir tahun 2004 lalu sebagian NAD dan Nias porak poranda, puluhan ribu nyawa dikubur tanpa identitas yang jelas. Sekurang-kurangnya satu di antara empat penduduk pantai utara dan barat propinsi NAD tewas terseret tsunami. Bahkan lebih separoh penduduk Meulaboh, Lok Nga dan beberapa kota kecil di dekat situ tidak diketahui nasibnya. Dengan kondisi seperti itu, kalaupun ada keluarga, sahabat atau kenalan yang tinggal di daerah bencana, kalaupun masih selamat pastilah ada keluarganya yang ikut tewas. Sungguh sangat mengenaskan... bencana yang berlangsung hanya sekitar empat menit telah menyebabkan ribuan orang menjadi sebatang kara, ribuan anak tiba-tiba menjadi yatim piatu, bahkan tidak kurang yang tewas sekeluarga sehingga punahlah garis keturunannya.
Bencana sudah terjadi, jarum jam tidak bisa diputar balik, yang sudah terjadi tidak bisa di "undo" seperti program Window.. yang diperlukan kini adalah menatap dan menata masa depan. Kejadian lalu dijadikan acuan dalam menatap masa depan. Tetapi adakah hikmah tersembunyi yang bisa diambil dari bencana mengerikan itu? Mungkin tidak banyak dan dianggap mencari-cari, tetapi sesungguhnya sangat penting dalam menatap masa depan Aceh dan negeri ini.
Kini setelah NAD luluh lantak, mata kita baru terbelalak... bahwa bencana besar sedang mengintai. Betapa, nusantara yang indah bak rangkaian ratna mutu manikam ini ternyata menyimpan energi perusak yang luar biasa. Pantai barat Sumatera, pantai selatan Jawa, pesisir Nusatenggara, Sulawesi, Maluku, dan banyak daerah lain ternyata rawan bencana. Tetapi apakah kenyataan itu membangkitkan kesadaran tentang perlunya mitigasi terhadap bencana, masih menjadi tanda tanya. Adakah setelah ini akan dimulai penataan lingkungan pantai, bangunan tidak didirikan persis di bibir pantai karena di situ perlu ditanami nyiur melambai atau cemara laut yang berguna menjadi pemecah ombak bila air laut meluap?
Memang banyak yang kemudian menjadi kawatir akan terjadi bencana, tetapi belum tentu cukup untuk membangkitkan kesadaran tentang perlunya persiapan diri dalam menghadapi bencana, baik dalam mengantisipasi sebelum terjadi, langkah penyelamatan dikala terjadi maupun recovery paska terjadinya bencana. Entahlah, apakah setelah ini akan ada program pelatihan bencana gempa maupun tsunami di sekolah, instansi ataupun masyarakat luas. Seandainya ada apakah itu akan menjadi tradisi yang berlangsung lama ataukah hanya sekedar menjadi seremoni yang hangat-hangat tahi ayam.
Apakah setelah ini akan dibangun mekanisme peringatan dini, termasuk sosialisasi tentang hasil kajian ilmiah maupun tanda-tanda alam yang menunjukkan akan datangnya bencana. Dari berita terekam bahwa fenomena air laut yang menyusut drastis setelah gempa yang berdasarkan pengalaman justru merupakan pertanda akan datangnya bahaya lebih besar, justru menarik perhatian orang untuk berbondong-bondong mendekati pantai. Kasus P Simeuleu yang paling dekat dengan episentrum, tetapi ternyata jumlah korban "hanya" 4 orang bisa menjadi bahan pelajaran berharga. Memang upaya manusia bukan untuk menghentikan bencana, tetapi hanya sebatas mengurangi terjadinya kerugian akibat bencana.
Bencana Aceh juga menegaskan, bahwa di tengah arus globalisasi dan modernisasi, masih banyak orang yang punya nurani. Masih banyak orang yang mau membantu mengorbankan tenaga dan harta benda minimal doa tanpa mengharap balasan apapun juga. Seluruh anak bangsa turut membantu, termasuk yang baru saja tertimpa bencana serupa seperti Papua. Seluruh dunia juga ikut bergerak, negara adikuasa yang biasanya bertingkah menyebalkan dan arogan ternyata juga mau mengulurkan tangan untuk memberi bantuan. Kalaupun pada kenyataannya nilai bantuan itu tidak seberapa dibandingkan bom dan mesiu yang mereka gunakan untuk menghacurkan Irak dan Afganistan, itu tidak menjadi alasan untuk menampik atau tidak menghargai bantuan mereka. Di sini bicara tentang manusia dan kemanusiaan tanpa memperhatikan politik, ideologi, agama dan keyakinan, ras, suku, kelompok, status sosial atau sekat-sekat lainnya.
Kebetulan Aceh yang selama ini bergejolak.... setelah tertimpa bencana ternyata mendapat perhatian dari segala penjuru, mendapat uluran tangan dari siapa saja. Kalau Pemerintah dan bangsa Indonesia serius membantu rakyat Aceh, maka isu separatisme tidak akan laku lagi di mata rakyat. Kemana engkau GAM? Keluarlah dari sarangmu, singsingkan lengan bajumu untuk ikut serta kita meringankan derita saudaramu yang juga saudara kita... Kini bukan saatnya bertikai, kini saatnya bersama-sama berbuat agar rakyat Aceh kembali seperti sediakala bahkan ditinggikan derajadnya.
Dari sisi spiritual, bencana Aceh juga mengajarkan tentang keterbatasan manusia dan rasa kasih sayang terhadap sesama. Ternyata manusia memang tidak bisa lepas dari manusia lain maupun kekuatan di luar dirinya sendiri seperti alam, lingkungan, dan juga dengan sang Khaliq. Dalam kontemplasi boleh mempertanyakan kepadaNya, apakah musibah ini merupakan hukuman, peringatan atau ujian.

Senin, 27 Desember 2004

Ketika alam menunjukkan keperkasaannya


serentetan musibah dan bencana silih berganti mendera..
ketika belum kering air mata...
ketika duka di hati belum reda...
tiba-tiba datang musibah dan bencana
dengan dahsyat menimpa...
.... cukup sudah rasanya
walaupun itu belum seberapa
dibanding keperkasaan sebenarnya..


apakah semua ini ini
kutukan akibat pengingkaran?
hukuman terhadap kesalahan?
peringatan terhadap penyimpangan?
ujian untuk mencapai kemuliaan
atau tidak ada arti apa-apa..





tapi bagaimanapun..
bencana demi bencana telah terjadi,
musibah dan musibah silih berganti,
tak bisa dihindari meski tidak satupun yang menghendaki
karenanya, hendaklah bisa jadi bahan penyadaran
terhadap nilai yang telah terlupakan,
bahwa manusia punya banyak kelemahan dan keterbatasan,
juga menumbuhkan kembali nilai-nilai kemanusiaan,
menyadarkan kembali terhadap arti tolong menolong dan sayang-
menyayang,

Rabu, 22 Desember 2004

Kesawan dan masa silam

Gerimis sore mendinginkan kota Medan, membawa kaki ini ke pecinan kawasan Kesawan. Di antara gedung-gedung tua kusam, yang dikala siang hiruk-pikuk dengan kegiatan bisnis tradisional, di malam harinya ada gemerlap lampu dan hingar-bingar karena menjadi tempat sekedar makan malam. Memang di antara deretan tenda-tenda berwarna warni yang digelar, agak sulit mencari yang halalan dan tayiban, tetapi menikmati suasana malam di tempat itu masihlah cukup menyenangkan.
Tertumbuk mata ke sebuah gedung tua ber-arsitektur Cina kurang terawat. Gedung tua bercat hiaju itu mengingatkan kita pada suasana di filem kungfu Shaolin. Itu adalah rumah Tjong Ah Fie, kata orang-orang situ.
Menelusuri, siapa itu Tjong Ah Fie tidaklah sulit, karena kisah kedekatannya dengan Sultan Deli bahka memiliki andil yang besar dalam pembangunan istana Maimoon maupun bangunan bersejarah lain di kota Medan.
Kota Medan yang kini kota terbesar ketiga di Indonesia, di masa lampau adalah kota perkebunan. Ah... langsung teringat kelahiranku –dan kebetulan namanya mirip Madiun— yang ternyata juga dibangun dari hasil pertanian. Kakek nenekku dulu berceritera tentang werk Deli, yang merekrut orang-orang kampung di Jawa untuk diperkerjakan di perkebunan tembakau di tanah Deli. Sebuah kisah yang menakutkan dengan ditambahi mitos “mobil cap gunting” yang menculik anak di bawah umur.
Saat ini jejak para buruh dari Jawa di tanah Deli masih terlihat, populasi keturunan mereka di daerah ini cukup besar. Bahkan di antara mereka pernah melambungkan daerah tersebut di dunia olahraga sepakbola.
Dari cerita kakek direkrut oleh werk Deli merupakan sebuah “bencana” dan penuh dengan kisah mengerikan, tetapi tanah Deli di masa lalu yang sebenarnya bukanlah sebuah kamp pembuangan. Terbukti di masa lalu cukup menarik orang luar untuk berbondong-bondong datang ke daerah ini terutama untuk bekerja di perkebunan tembakau. Tjong Ah Fie ternyata adalah salah satu figur yang berperan dalam pengerahan TKC (tenaga kerja cina) ke tanah Deli. Bahkan dari aktivitas inilah Tjong Ah Fie meraih sukses dan menjadi kaya raya.
Kini, kejayaan tembakau Deli hanya tinggal menjadi sejarah, memang ada keturunan buruh Cina yang jadi taipan di negeri ini, tetapi rumah Tjong Ah Fie nampak semakin kusam, karena generasi penerusnya tidak ada yang mampu lagi mempertahankan kerajaan bisnisnya. Nasib orang-orang Jawa keturunan buruh kasar-pun sebagian besar tidak jauh berbeda dengan nenek moyangya dahulu. Yang jelas berubah... dahulu, tenaga kerja asing berlomba ke tanah Deli untuk menggapai sukses, kini berbalik... orang Indonesia harus mengais rejeki untuk sekedar bertahan hidup ke negeri jiran menjadi buruh perkebunan, itupun harus dikejar serdadu karena dianggap sebagai pendatang haram....

Selasa, 09 November 2004

Kemenangan macam apa yang saya raih?

Ketika Ramadhan segera berlalu terbersit pertanyaan menggelayut, apakah saya termasuk yang akan memperoleh kemenangan, mengingat sepanjang bulan ini justru merasakan sebagai "golongan yang terbelenggu" ketimbang golongan yang merasakan kenikmatan ibadah?
Dulu, ketika datang tidak pernah merasa perlu ada persiapan istimewa untuk menyongsongnya. Ketika Ramadhan akan pergi juga tidak merasa perlu untuk menyesalinya padahal pada saat itu langit, bumi dan para malaikat-pun menangis. Bahkan di saat itu merasa senang karena akan segera terlepas dari beban yang terasa mengekang banyak keinginanku. Di saat-saat terakhir menjelang kepergian Ramadhan yang seharusnya harus lebih banyak waktu tercurah untuk menambah kuantitas dan memperbaiki kualitas ibadah Ramadhan dalam rangka untuk lebih dekat denganMu, semakin habis waktuku tersita untuk mempersiapkan kemeriahan hura-hura lebaran.
Dengan gamang kusambut Syawal atau bulan peningkatan, dengan pertanyaan yang juga menggelayut, adakah saya gagal dalam menjalani Ramadhan tahun ini?
Adakah di bulan-bulan selanjutnya nanti saya masih bersedia meluangkan waktu untuk melangkah ke rumah-Mu untuk bershalat jamaah? Adakah di tengah kesibukanku nanti masih terbersit niat untuk membaca ayat-ayat-Mu? Adakah ditengah malam, saya masih bersedia bangkit dari tidur hanya untuk ber-audiensi dengan-Mu?. Adakah saya masih terus berupaya untuk menjauhi segala sesuatu yang sia-sia, menahan gejolak nafsu, berpaling dari maksiat dan larangan-larangan-Mu lainnya sebagaimana kulalukan dengan susah payah ketika bulan Ramadhan lalu? Di samping profetik individual, tidak kurang pentingnya adakah candradimuka ini juga mampu mengasah kepekaan sosial -ku dalam ikut merasakan derita kaum yang teraniaya atau kaum papa, sehingga mampu berempati, tumbuh niat tulus serta mau mengulurkan tangan dalam ikut menyangga beban mereka.
Ya Allah... saya mohon pertolonganMu untuk mampu melaksanakan itu dan berilah kesempatan untuk dapat lebih merasakan nikmat Ramadhan lagi di tahun yang akan datang..

Selasa, 19 Oktober 2004

Puasa kok minta dihormati…

Puasa itu ibadah khusus, kalau amalan lain itu diperuntukkan bagi yang melaksanakan tetapi amalan puasa khusus untuk Allah semata (Hadist Qudsi). Memang puasa itu istimewa karena hanya diwajibkan khusus kepada orang yang beriman (QS 2:183), jadi kalau nggak beriman ya nggak wajib puasa. Sedangkan tujuan puasa adalah supaya orang yang beriman itu menjadi orang bertaqwa.
Puasa adalah fitrah, karena fenomena “puasa” bisa ditemui di banyak kehidupan flora dan fauna di alam dan menjadi ajaran di beberapa agama atau budaya meskipun dalam bentuk bervariasi.
Namun berpuasa itu tidak gampang, nyatanya betapa banyak yang berpuasa tetapi memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga (Hadist). Apalagi manusia suka menjebakkan diri ke dalam ritus-ritus atau simbol-simbol ketimbang memahami hakekat dan jiwa dari ibadah termasuk puasa.
Puasa yang antara lain merupakan “bulan latihan untuk menahan diri” dan belajar ber-empati tentang kehidupan fakir miskin ternyata malah menjadi “bulan konsumtif” besar-besaran. Bagaimana tidak, menu makanan saja di bulan ini meningkat tajam dan tidak realistis dibandingkan bulan lain. Ritus-ritus seperti buka bersama atau extra menu di rumah tangga sering menghasilkan banyak kemubaziran. Memang nafsu menggebu itu terjadi di siang hari ketika tengah menderita karena puasa, padahal akan langsung padam hanya ketika bibir basah dengan beberapa tetes air bila bedug magrib tiba.
Salah satu dari beberapa kekeliruan Umat Islam di bulan puasa sebagaimana disitir oleh Yusuf Qardawi adalah dijadikannya puasa sebagai alasan untuk bermalas-malasan dan excuse untuk tidak berprestasi. Padahal banyak prestasi gemilang yang diukir Nabi di bulan Ramadan, bahkan kemerdekaan Indonesia juga terjadi di bulan Ramadhan. Di bulan puasa konsumtif ini, banyak orang berlomba-lomba untuk mengaji Al Quran, tetapi tujuannya hanya mengejar pahala seperti sopir angkot mengejar setoran. Memang upaya seperti tidak sepenuhnya salah, tetapi bukankah tujuan “mengaji” itu mempelajari kitab suci kemudian menghidupkannya dalam jiwa untuk menjalankan aktivitas sehari-hari bukan masalah mengejar setoran…
Karena sikap para shoimin juga maka puasa menjadi event konsumtip. Betapa banyak pasar swalayan atau pusat perbelanjaan yang memperoleh pendapatan di atas 30% dari omset setahun hanya dari beberapa hari menjelang hari raya. Media TV menyajikan acara yang katanya “islami” walapun dengan definisi yang masih menyisakan pertanyaan. Apakah musik gambus dan nasyid itu lebih Islami ketimbang musik jazz atau Gregorian? Kenapa tiba-tiba para bintang komedi seperti Komeng, Bagito, Patrio, Kiwil, Basuki, Doyok, Tessy tiba-tiba lebih popular ketimbang ustad atau kyai. Kenapa tiba-tiba Sarah Azhari, Peggy, artis AFI dan KDI menjadi santri dan berbusana lebih rapi tidak lagi menggoda iman lelaki. Lagi-lagi semuanya bukan untuk meningkatkan keimanan tetapi hanya menggiring untuk meningkatkan konsumsi.
Yang lebih membuat geli, ungkapan “hormatilah orang berpuasa”. Gimana nggak geli, wong puasa kok minta dihormati? Bukankah puasa itu hanya untuk Allah bukan untuk tetangga, teman sejawat atau masyarakat lain apalagi yang memang nggak wajib berpuasa. Wong kepingin dihormati kok minta dan setengah maksa. Padahal ibadah demi dihormati orang lain itu riya’ alias pamer “Nih gua puasa… hormatin kita dooong”. Kalau puasa hanya ingin dipuji jelas nantinya “tidak memperoleh apa-apa kecuali lapar dan dahaga”.
Udah dibilang puasa itu hanya untuk yang beriman. Padahal kalau bener-bener beriman, orang itu nggak bakal suka keluyuran ke tempat hiburan malam atau tempat maksiat dan atau yang menjurus maksiat. Jadi ada dan tidaknya tempat gituan mestinya nggak ngaruh bagi orang beriman yang diwajibkan puasa itu. Jadi lucu juga ada hiburan malam yang ditutup hanya karena bulan puasa atau diwaktu orang-orang berimannya lagi puasa. Kalau mau nutup ya sekalian ditutup selamanya.. bukan pada waktu puasa saja… Apalagi penutupan restoran, jelas makin nggak beralasan karena yang nggak puasa (baik yang karena yang nggak wajib atau karena “halangan” yang dibenarkan) kan masih perlu sarapan, makan siang atau ngemil. Kalau ada aturan, sebaiknya aturan untuk membatasi perkara yang menimbulkan kerugian orang banyak bukan aturan untuk mewajibkan untuk melakukan sesuatu.
Puasa itu kan “bulan latihan” oleh karena itu setelah lebaran, bukan berarti semangat puasanya “lebar” atau “bubar”. Seperti “sujud yang membekas” itu bukan berarti kapalan di jidad karena sering sujud, tetapi jiwa sujud yang membekas dalam kehidupan sehari-hari. Kalau bulan puasa nggak ke tempat maksiat, seharusnya di bulan yang lain-pun begitu.

Minggu, 12 September 2004

Ketika teror menyaru dengan horor....

Dari sisi manapun, rasanya tidak pernah bisa terpikirkan ada keuntungan yang bisa dipetik dari tragedi bom di depan Kedubes Australia Jakarta lalu maupun tempat lain di tanah air. Pernyataan ini memperoleh pembenaran ketika sampai saat ini belum pernah terdengar ada pihak yang secara terbuka mengumumkan bahwa dia merasa berbahagia dengan adanya tragedi bom-bom itu.
Ya.. memang bom meledak pasti ber-effek merugikan atau merusak. Tetapi tidak bisa dibantah, bom-bom itu memang sengaja dibuat dan diledakkan. Jadi ada pihak yang memeng menghendaki adanya kerusakan atau kerugian. Apakah pelaku berjiwa vandalism, sekedar gagah-gagahan supaya memperoleh pengakuan tentang keberanian dan kenekatan yang dilakukan, atau mengharap penghargaan tak bernilai atau publikasi atas prestasi yang tidak mudah ditiru oleh orang yang tidak punya nyali....
Bom bisa dianalogikan... maaf... dengan kentut. Memang, kentut tidak pernah dilaporkan bisa menyebabkan kematian, namun kentut juga dilakukan sembunyi-sembunyi dan bisa menimbulkan kepuasan atau kelegaan bagi yang meledakkan. Ketika isi perut penuh, maka udara kotor mendesak katup dan pada ambang tertentu meledaklah kentut yang menimbulkan kelegaan. Setelah itu muncul perdebatan dan saling tuduh..
Apakah bom di negeri ini adalah merupakan ledakan "kentut" dari kesesakan yang menghimpit para pelaku? Lalu apakah alasan itu bisa dijadikan alasan pembenaran terhadap tindakannya?
Apapun alasannya, semua menghujat kecuali yang menjadi pelakunya, ledakan bom sudah kerap kali terjadi di negeri ini, bahkan sudah layaknya seperti even mengerikan yang terencana secara berkala. Jadi ancaman bom di negeri ini sudah bukan lagi sekedar teror yang mengharuskan berpikir dua kali bagi yang akan mengusik keberadaan teroris, kini ancaman itu bisa menimpa siapa saja termasuk yang di luar wilayah atau tidak ada sangkut paut dengan kepentingan-kepentingan yang sedang bertikai. Jadi ancaman bom bukan lagi sekedar teror tetapi sudah menjadi horor yang menghantui sepanjang waktu..

Senin, 06 September 2004

Kring-kring-kring ada sepeda


Sepeda kendaraan segala strata segala usia dan segala kegiatan. Alat permainan si kecil yang baru bisa naik roda tiga, alat transportasi orang desa mengais rejeki di kota, alat olahraga bagi yang muda atau merasa muda, alat untuk nostalgia dan berbagi rasa bagi yang memiliki kegemaran yang sama. Pak guru tua terengah berpelu mengayuh sepeda menuju tempat untuk mengajar dan mendidik para muridnya, bapak-bapak tua di utara Jakarta mengais rejeki dengan ojek sepeda, sementara yang berduit naik sepeda titanium berharga puluhan juta. Simplex, , Fongers, Gazelle, Raleigh (sampai sekarang) adalah contok merek andalan tempo doeloe. Generasi berganti muncul Federal disusul Wim Cycle, BMX, Polygon, Raleigh, Cannondale, GT, Scott dan beberapa merek beken lainnya. Aksesorisnya bervariasi, ada rim karet, teromol, cakram sampai sandal jepit (kalau berhenti sandalnya diseret ke tanah atau ke ban). Yang ngetop bikinan Shimano Jepang. Ada yang gir tetap sampai multi gear yang berbunyi clik, clik, clik..... dengan bel ting-tong.....ting-tong...
Ternyata sepeda juga punya andil dalam bias gender, karena sepeda ada yang berjenis laki-laki, perempuan dan ada pula yang jengki. Lelaki naik sepeda lelaki sudah sewajarnya, lelaki naik sepeda perempuan masih pantes, tetapi perempuan (pakai kebaya atau rok mini) naik sepeda lelaki jadi bahan bisik-bisik tetangga yang suka gosip. Banci jadi bahan olok-olok di masyarakat, tetapi sepeda jengki justru lebih banyak diterima di kalangan orang muda. Lebih praktis, ringan, enak dipakai dan cocok untuk segala medan.
Pada jamannya sepeda pernah menjadi kendaraan para bangsawan dan eksekutif. Foto penunggang sepeda bukan saja yang memakai celana seadanya dan atau baju kumal bertambal, bukan pula yang ber-kostum ketat meriah dari bahan satin, tetapi juga mereka yang berjas dan berdasi. Ratu Juliana dan putri Marijke pernah bercengkerama di atas sepeda (1953). Di tahun 1990-an, walaupun sekedar seremonial pertama dan terakhir, RI 1 bersepeda tandem dengan ibu negara menyusur jalan kota satu kilometer dalam pengawalan ketat para ajudan.
Di masa lalu sepeda juga simbul kepatuhan anak pada orang tua. Kerelaan sang kakak berpanas berpeluh mengayuh sepeda puluhan kilometer tiap hari dari desa ke kota menuntut ilmu merupakan salah satu wujud kepatuhan dan semangat pantang menyerah. Duka sang kakak dengan celana ditisik di pantat karena jebol kena sadel merupakan contoh baik bagi para adik. Padahal adik bersekolah ke kota dalam jaman yang sudah berbeda.
Ketika jalanan kota padat macet penuh polusi dari gas emisi, sepeda sebenarnya bisa menjadi salah satu solusi. Tetapi tidak pernah menjadi wacana untuk ke sana, karena pekerja di kota ini adalah komuter, yang tiap hari menempuh jarak puluhan kilometer yang mustahil ditempuh hanya dengan kaki mengayuh tanpa bantuan mesin yang minum bensin.
Akhirnya fungsi sepeda bukan menjadi sarana transportasi tapi kembali menjadi gaya hidup yakni sekedar untuk berolahraga di jalanan kota, di desa-desa atau menuruni lembah pegunungan, atau sarana kongkow-kongkow orang sehobi, bernostalgia atau menunjukkan nilai koleksi buah dari ketekunan yang membanggakan. Lain halnya bagi yang kurang beruntung, ia masih merupakan transportasi yang murah dan alat untuk mengais rejeki di tengah ganasnya kehidupan.. sambil berteriak nyaring... siomay... bakso... sol sepatu... kursi jog...
Geos, genjot, onthel terus....kring...kring..kring...

Senin, 23 Agustus 2004

Buruan Cium Gue

Cium merupakan salah satu cara pengungkapan kasih-sayang. Maka yang namanya nyium itu nggak perlu disuruh-suruh, apalagi dipaksa. Lalu bagaimana kalau cewek yang penyiar radio, demi gengsi karena dua tahun pacaran ternyata belum pernah ciuman sekalipun lalu "memaksa" pacarnya untuk segera menciumnya?. Lucu?.... ya, memang filem “Buruan Cinta Gue” (BCG) itu film humor. Tetapi komentar ulama atas filem ini pasti bukan bermaksud melucu di situ juga tidak ada unsur humor.
Kalau filem itu ibarat pisau yang bisa di salah gunakan, apakah ada penyalah gunaan seperti itu sehingga BCG menuai masalah? Kalau essensinya masalah ciumah, kenapa kembali dipermasalahkan, bukankah saat ini adegan ciuman itu mudah sekali dijumpai di mana saja kapan saja di negeri tercinta Indonesia?. Tidak perlu di klab malam atau cakram rekaman yang digelar di kaki lima... tetapi di koran atau tabloid seharga tidak lebih dari sebotol air mineral atau live di taman wisata umum tempat keluarga bercengkerama. Bahkan tidak perlu ke gedung bioskop atau tempat hiburan khusus, di ruang keluarga melalui tv atau multimedia, adegan yang menjurus atau nyata berisi perzinahan, bisa hadir bebas dan menjadi menu tontonan dan hiburan keluarga mulai dewasa sampai anak balita.
Ketika ulama berada di simpang jalan, akibat ketidak mampuan menjawab pemasalahan ummat, akibat tidak bisa menjadi panutan, fatwanya membingungkan dan bertentangan dengan aspirasi umat, akhirnya legitimasi yang tidak lagu diakui, kredibilitas diragukan, maka setiap mengangkat isu, lalu disebut mengada-ada dan kurang tanggap karena toh banyak masalah lain lebih prioritas, bahkan dicurigai bermain demi keuntungan pribadi. Sementara di luar pergeseran-pergeseran nilai terjadi dengan hebatnya.
Nilai tindakan atau ucapan tergantung dari motivasi, karena motivasi mendasari sebuah niat yang bisa bergerak di daerah “mulia” sampai “jahat”. Namun sayangnya, membaca sebuah motivasi tidaklah gampang. Apalagi dunia ini tidak hanya terdiri dari unsur “hitam” dan “putih” saja, ada banyak grey area yang dengan cepat bisa berubah menjadi warna-warni sesuai dengan kondisi-kondisi dan kepentingan-kepentingan. Motivasi ulama tertentu saja bisa dibaca salah atau disalah artikan apalagi motivasi penentangnya yang tidak jelas orangnya.
Mengherankan sekali, ternyata filem BCG sudah memperoleh cap lolos sensor dari lembaga resmi. Artinya dari aspek legal formal dan prosedural filem itu telah memenuhi syarat. Kalau masih menuai sentilan dan hujatan dari sebagian masyarakat, jelas ada sesuatu yang tidak beres. Secara legal formal dianggap benar, tidak selalu secara material juga benar. Misalnya punya SIM (lewat calo), secara legal formal sudah sah untuk menjalankan mobil di jalan raya, tetapi apakah ia benar-benar bisa mengemudikan kendaraan bermotor atau mampu membedakan antara gas dan rem itu mah soal lain. Belanja proyek sesuai nilai yang tertulis di kuitansi itu sah, tetapi apakah nilai kuitansi itu wajar sesuai standar... itu perlu deklarasi lebih lanjut.
Jadi mungkin saja dalam sistem perijinan dan sensor filem BCG itu ada penyimpangan. Seperti biasa banyak anomali dan keanehan di negeri ini, lha wong orang buta saja bisa punya SIM asal bisa mbayar kok (tapi itu kurang kerjaan!).
So... kalau begitu kontroversi BCG merupakan puncak gunung es dari masalah yang lebih kompleks. Mulai masalah peran ulama, interprestasi dan revitalisasi ajaran agama, pergeseran nilai di masyarakat, peran masyarakat umum dalam memahami realitas, berempati dan bertanggung jawab secara benar serta mekanisme kontrol sosial di masyarakat maupun kelembagaan birokrasi... weeehhh pussiiing.
Memang BCG telah distop peredarannya, tetapi masih menyisakan masalah dan tidak ada rumusan jalan keluar secara jelas yang akan jadi yurisprudensi masalah serupa di masa yang akan datang. Maka tidaklah aneh, masalah beginian telah berulang kali terjadi dan tidak lama lagi akan terjadi lagi. Sedih kalau tidak pernah diselesaikan secara tuntas. Keledai tidak akan pernah terperosok ke dalam lubang yang sama dua kali, tetapi itu baru konon katanya, katanya, katanya Trio Kwek-Kwek.... Ah, manusia bukan keledai dan lubang yang kemarin ada pun telah ditambal sementara, tapi siapa tahu lubang itu akan kembali menganga lebih cepat dari yang disangka...

Senin, 02 Agustus 2004

Kekerasan di sekitar kita

Saya nggak kenal Amanda... tetapi berita kematiannya cukup menyentak juga. Padahal semula ketika ada e-mail mampir di mail box, ada keluarga minta bantuan kehilangan anaknya kuanggap biasa saja, ah paling-paling anak balita yang hilang karena keteledoran orang tua yang tidak bisa mengawasi anaknya dengan baik. Ternyata ia bukan anak lagi, ia dewasa... apakah ia mengalami keterbelakangan mental? Tidak mungkin, karena dia seorang mahasiswi.. ah paling-paling si "anak" itu melarikan diri atau dilarikan orang terdekatnya.... Kalau begini, sudah sedemikian tumpulkah kepekaan dan rasa empati ini?

Ternyata berita selanjutnya menyentak. Ia mati dibunuh orang terdekatnya dengan membawa aib diri maupun keluarganya. Kini aku bisa membayangkan kesedihan keluarganya. Ketika anak dambaan, segala keperluannya dipenuhi dan sebentar lagi lulus dari sebuah perguruan tinggi bergengsi tiba-tiba harus mengalami peristiwa mengenaskan sekaligus mencoreng muka.
Ah, ternyata ancaman itu bukan dari mana-mana tetapi dari sekitar kita juga. Lalu apakah kita perlu mencurigai siapa saja yang ada di sekitar kita. Apakah kita harus paranoid supaya selamat dari bahaya seorang paranoid yang ada di sekitar kita?
Jangan-jangan ada Amanda-Amanda lain di sekitar kita?

Senin, 26 Juli 2004

Sebuah Permulaan

Ketika aku memulai sesuatu...
Yang aku belum pernah kulakukan sebelumnya.
Gamang terasa.
Darimana dan bagaimana aku memulai?
Apakah ini permulaan yang membawa keberhasilan.
Ataukah hanya akan menjadikuburan ide yang terbengkalai...
Aku tak peduli..
Yang penting mulai...
Kalau bukan kini,kapan lagi.