Minggu, 2008 April 06

Fitnah

Fitnah adalah hal yang menyebabkan perpecahan, memfitnah adalah upaya untuk "memecah belah"... jadi siapa yang senang menyebarkan benih-benih kebencian sehingga menumbuh kembangkan perpecahan itulah "tukang fitnah"…
Memiliki perasaan "tidak senang" kepada kelompok atau orang tertentu karena alasan yang boleh jadi sangat subyektif, itu manusiawi sekali. Namun, manusia adalah "makhluk tuhan yang paling beradab" dan juga hidup dalam pergaulan yang beradab pula, makanya harus menahan perasaan sendiri demi menjaga perasaan orang lain. Konon rasa benci itu bisa menghapuskan rasa adil, sebab kalau diumbar lepas, akan menimbulkan kesewenang-wenangan terhadap orang yang tidak disenangi... Padahal, terhadap yang jelas menjadi pelaku kejahatan sekalipun pelurusan diarahkan terutama kepada perilakunya bukan kepada manusianya. Karena siapa tahu ia adalah korban yang perlu dikasihani, yang dilakukan adalah diluar kesadaran kemanusiaannya. Bagaimanapun menyudutkan atau menghinakan bukanlah cara yang tepat.
Fitnah lebih kejam dari pembunuhan, itu bunyi salah satu ayat suci. Maksudnya bukan berarti nyawa seorang manusia itu tidak ada artinya, namun perlu dibayangkan bahwa kehilangan nyawa yang sangat besar artinya ternyata belum ada apa-apanya dibandingkan dengan kedahsyatan fitnah keji. Fitnah keji itu laksana terjangan tsunami yang dengan dahsyatnya menyebarkan benih perpecahan yang akhirnya menyulut peperangan dengan serangkaian perusakan dan pembunuhan di dalamya.
Sekeji-kejinya fitnah, menghadapinya dengan fitnah balik adalah kontra produktif. Tidak ada bedanya antara penfitnah pertama dengan fitnah balasan, keduanya sama-sama fitnah. Sejujurnya orang melancarkan fitnah secara diam-diam mengakui eksistensi yang difitnah. Ia tidak merasa perlu menyebarkan fitnah kalau yang difitnah itu dianggap terlalu kecil atau terlalu lemah. Dengan kata lain orang akan semakin rajin menfitnah kalau memang semakin merasa "terganggu" dengan keberadaan orang yang difitnah. Seperti sebatang pohon, semakin besar dan mapan keberadaan diri, semakin ngetop dan populer seseorang, semakin tinggi kedudukan sesorang, semakin kaya sesorang, dst juga harus semakin siap untuk menerima fitnah yang semakin gencar....
Dalam perjalanan hidup kanjeng Nabi Muhammad SAW yang menjadi suri tauladan ummat Islam, beliau menjadi "besar" dan "disegani" bahkan oleh musuh-musuhnya justru terutama karena sikap beliau yang tepat dan bijaksana ketika menghadapi fitnah yang beliau terima. Beliau di satu sisi sangat sabar, namun di sisi lain juga pernah melakukan perlawanan secara tepat. Bagi beliau, kekerasan adalah cara yang terakhir, dan itupun bukan dimulai dari pihak beliau...

Sabtu, 2008 Maret 29

Aku iri sama kang Gito

Tidak banyak orang yang memperoleh kesempatan seperti kang Gito. yang dikaruniai kehidupan dengan harta berkecukupan, memiliki kejayaan dan kemasyhuran sehingga bisa mengumbar hawa nafsunya dengan hura-hura, foya-foya, narkoba, angkara juga wanita...
Namun tidak banyak juga orang yang seperti kang Gito, ketika beranjak tua tubuhnya digerogoti kanker getah bening, alhamdulillah hal itu oleh beliau dianggap sebagai "teguran" atas kelakuannya selama ini, sehingga dijalaninya "cobaan" tersebut dengan sabar dan ikhlas sambil berusaha untuk terus merubah perilaku salahnya... Agaknya kang Gito bisa melampauinya dan lulus ujian itu... Karena betapa banyak orang yang juga mengalami hal serupa, namun gagal untuk menjadikan "cobaan" sebagai "jeweran" agar berbenah diri dalam rangka untuk lebih dekat lagi kepadaNya...

"Cinta yang tulus di dalam hatiku,
Telah bersemi karena-Mu
Hati yang suram kini tiada lagi
Tlah bersinar karena-Mu
Semua yang ada pada-Mu
Membuat diriku
tiada berdaya
Hanyalah bagi-Mu
Hanyalah untuk-Mu
Seluruh hidup dan cintaku…"

Kita boleh iri kepada kang Gito... karena di masa muda beliau mampu memperoleh kejayaan dan kemasyhuran, punya cukup harta, punya isteri cantik, anak yang dan keluarga yang baik. Namun akhir perjalanan hidup beliau yang "khusnul khatimah" itulah yang seharusnya membuat kita lebih iri lagi.... Ya kita iri kepada kang Gito, namun sedikitpun tidak pernah punya keinginan untuk menderita seperti kang Gito di penghujung hidup... Kapanpun rasanya kita tidak akan pernah siap, karena sering lupa mempersiapkan diri dalam menghadapi kemungkinan terjadinya...

Selamat jalan kang Gito...


Sabtu, 2008 Maret 15

Pilih Gusti Alloh sebagai sumber motivasi

Setiap jengkal langkah pasti ada tujuannya, bahkan "berjalan sak paran-paran" pun pasti ada tujuannya, bukan menuju suatu tempat tertentu, tetapi dengan "musing-musing"itu siapa tahu bisa muncul "mak thing".. gambar "plenthong" murub... artinya nemu ide yang bisa direalisasikan menjadi sesuatu yang berarti.
Hampir tiap hari, orang mruput subuh, bareng maling mau operasi ke tempat kerja, ketika larut malam dengan kondisi badan loyo dan kusut lungset baru nyampai di rumah... kalau nggak ada tujuannya, siapa yang mau. "Buat ngingoni anak bojo", (buat ngasih makan anak bini) ucapan klise para suami atau "demi anaknya mertua" seperti tertulis di bak truk antar kota di Pantura sana.
Di sekitar kita ini mudah ditemui "orang2 aneh" yang mau-maunya mengerjakan sesuatu yang nggak enak namun imbalan yang diperoleh juga nggak memadai.. bukan karena kepepet, lha wong tampaknya mereka juga menjalankan dengan sungguh-sungguh, tidak nampak keluh kesah bahkan sepertinya malah "enjoy aja" dengan keadaan tidak menyenangkan itu ... Ketika mereka ditanya, kok mau-maunya melakukan pekerjaan itu, jawab mereka enteng saja "lillahi ta'ala"... atau dengan kalimat yang agak panjang "mencari ridhonya Gusti Alloh"... hebat banget yak..
Memang yang menggerakkan dan mengarahkan seseorang untuk berperilaku adalah motif. Motivasi kuatlah yang menyebabkan seseorang melakukan sesuatu yang "luar biasa" seperti itu. Banyak contoh orang bisa "sukses" karena sungguh-sungguh, tidak main-mai, tidak setengah-setengah dalam menekuni pekerjaan yang dihadapinya. Siapapun boleh iri atau meniru orang sukses seperti itu. Namun perlu disagdari banwa motivasi itu berasal dari dalam diri, bukan karena dorongan dari luar.... soalnya kalau akibat trigger rangsangan dari luar itu namanya emosi yang hanya bertahan ketika tahi ayam masih hangat saja.
Dus gibas, dus gembel.... jadi perilaku manusia sangat tergantung motif yang mendasari. Kalau motifnya baru sebatas urusan perut atau dibawahnya saja, maka dia baru berada pada dasar piramida mbah Maslow dan perilakunya juga tidak jauh-jauh dari yang hidup di taman safari, hutan belantara atau dikandang piaraan atau tontonan. Konon, tanpa akal budi manusia memang enggak ada bedanya dengan aktor/aktris terkenal yang jadi bintang Kanal Animal Planet yang nggak pernah menerima bayaran itu.
Menurut pak ustad di langgar ndeso dulu... ketika akan akan jadi manusia dulu, kita ini masing-masing sudah tandatangan MOU dengan Gusti Alloh, bersedia untuk jadi wakilNya di muka bumi dan siap sedia untuk selalu manut, tunduk patuh beribadah kepadaNya.. Nah karena udah tandatangan itulah maka mau nggak mau, ya harus memilih The Ultimate Motivator sebagai sumber motif kehidupan ini. Sebagai The Ultimate sumber motif, Gusti Alloh ya harus melingkupi seluruh tingkah laku bahkan juga dalam berpikir dan olah rasa. Kapanpun butuh Gusti Alloh, bukan hanya sekali-kali ketika terdesak butuh tempat pelarian.
Kalau udah Lillahi Ta'ala atau karena Gusti Alloh Yang Maha Tinggi maka segala keberhasilan adalah karuniaNya yang layak disyukuri dan tidak pantas disombongkan. Sebaliknya apabila gagal, bukan berarti kiamat, mungkin belum ada restu dariNya atau Ia masih menguji kesungguhan dalam menggapainya sehingga perlu diupyakan terus dan terus dan terus dan terus. Pujian orang lain atau bahkan balasan karena itu bukanlah satu-satunya tujuan dalam mengerjakan sesuatu. Bagi Gusti Alloh "effort" juga bernilai di samping "afford" sesuatu. tetapi bukan berarti boleh gagal melulu.

Jumat, 2007 Desember 21

Kurban, bukan cuma nyembelih kambing

Ibadah itu nggak cuma upacara ritual, seperti gerak badan senam pagi, semacam taiso di jaman jepang dulu, upacara bendera di sekolah tiap senin pagi, atau PNS tiap tanggal 17 di jaman Orde Baru... tetapi lebih dari itu, ibadah harus punya jiwa atau ruh atau punya dimensi moral spiritual dan mengandung aspek edukatif untuk membangun perilaku konstruktif... weleh kok pidato pejabat banget gitu looh...
Iya sih... intinya ibadah itu memang nggak boleh ecek-ecek, harus dibarengi kesungguhan hati dan harus "membekas" dalam kehidupan sehari-hari. Capek-capek sholat kalau cuma asal-asalan atau sahun apalagi yuraun justru membuat pelakunya celaka. Berlapar-lapar puasa kalau tidak sungguh-sungguh cuma dapet perut kerocongan dan tenggorokan rock-rockan. Tentu maksudnya bukan lantas kalau belum bisa khusuk nggak usah sholat, kalo belum paham bener ilmunya jangan puasa dulu.. ya nggak gitu lah. Maksudnya mencoba tapi belum sempurna memang celaka, tapi takut mencoba dengan dalih belum bisa sempurna justru dapat celaka lebih banyak, pertama melawan perintah celaka dikutuk, kedua malas atau nggak mau berusaha celaka dibenci, ketiga celaka kehilangan kesempatan dapat tiket ke sorga...
Nah sekarang ke soal ibadah yang lagi dilakukan sekarang ini yakni korban. Ritual korban itu motong kambing, nyembelih dapi sapi atau menjagal onta.. tapi korban bukan cuma berhenti disitu saja... Ritual ibadah termasuk kurban ya harus punya ruh dan menyentuh moral spiritual, dan ada dampaknya terhadap perbaikan perilaku konstruktif.
Tujuan korban bukanlah untuk memberi upeti atau kasarnya "nyogok" terhadap yang memiliki kekuatan yang mempengaruhi kehidupan manusia, biar nggak celaka atau biar selamat dari marabahaya. Outcome terpenting dari ibadah korban bukanlah apa atau kepada siapa daging itu dipersembahkan, tetapi justru terletak pada pengaruh ritual itu terhadap diri si kurban.
Ibadah korban merupakan salah satu wujud apresiasi atas sikap pasrah dan patuh yang luar biasa dari Kanjeng Nabi Ibrahim kepada Gusti Alloh sehingga beliau ikhlas melakukan apapun untukNya termasuk mengorbankan putera sendiri yang tersayang. Tentu nggak imbang kalau mencoba membandingkan Kanjeng Nabi Ibrahim 'alaihi salam Bapak Para Nabi dan Rasul, dengan kita yang ilmu dan amalan agamanya sangat terbatas. Tidak imbang pula menyandingkan seorang remaja putra Nabi satu-satunya, pemuda soleh yang dibamba puluhan tahun dan dibesarkan dalam hidup penuh perjuangan dengan... maaf.... seekor kambing (Maka kalau kambing saja keberatan itu sungguh ... t-e-r-l-a-l-u..). Karena ikatan emosional antara kanjeng Nabi Ibrahim dengan putranya itu jelas jauh sekali bedanya dengan ikatan emosional kita dengan kambing korban yang baru kita beli menjelang penyembelihan bahkan kita beli lewat "cyber" dimana kita tidak pernah lihat wajahnya kecuali lewat file jpeg doang.
Meskipun demikian perbandingan itu hendaknya tidak mengurangi kekhidmatan dalam menjalankan kurban, semangat dan suasana hati kita perlu di"tuning" maksimal sampai "matching" dengan suasana Nabi Ibrahim ketika akan mengeksekusi "ujian" yang maha berat itu. Pengorbanan yang sebenarnya kan bukan hanya terletak pada kambingnya, dombanya, sapinya atau ontanya, tetapi beyond that... yakni keikhlasan hati untuk mengorbankan sifat kebinatangan yakni mengorbankan ego, mengendalikan hawa nafsu, meminggirkan kepentingan atau kesenangan sendiri...
Daging korban sangat dibutuhkan oleh mereka yang kurang protein hewani, bermanfaat untuk membantu orang kekurangan, adanya korban juga dapat membantu petani peternak. Namun kerelaan untuk mengorbankan egoisme, mengendalikan hawa nafsu, melepaskan sebagian kesenangan sendiri yang merupakan dampak dari spirit korban, meskipun nggak bisa dibikin BBQ, tentu jauh lebih bermanfaat bagi lingkungan, masyarakat, bangsa bahkan umat manusia....

Selamat Idul Adha 1428 H
Selamat berkurban bagi yang punya kelebihan rejeki

Selasa, 2007 November 20

Lebaran beda harinya, tapi sama tanggalnya

Ustad Mukidin mengatakan, mau lebaran Jumat (12/11/2007) boleh asal nggak cuma ikut-ikutan tanpa dasar apalagi dasarnya cuma waton suloyo dengan Pemerintah saja… lebaran Sabtu (13/11/2007) juga nggak salah asal ngerti dan tidak cuma manut grubyug saja… Gusti Alloh memberi kebabasan kepada manusia untuk milih sesuai dengan keyakinannya…
Itulah kelebihan orang Islam, untuk menentukan waktu sholat Maghrib atau Imsyak saja butuh ilmu pengetahuan. Bahkan untuk penentuan awal atau akhir puasa ini di samping perlu ngerti ilmunya juga perlu ada sidang ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu (astronomy, penerbangan, matematika, komputer dan ilmu fikih) dengan dibantu alat-alat dari yang paling sederhana sampai canggih (teropong, alat-alat ukur optik/ digital, perangkat komputer).
Bayan Semun mengajukan pertanyaan usil “Sudah sedemikian canggih cara untuk ngukurnya kok masih terjadi perbedaan?” "Kalo nurut Gusti Alloh sebenarnya lebarannya kapan sih pak Ustad?"
“Sing jelas lebaran ya tanggal 1 Syawal…. Apapun harinya’ jawab Ustad Mukidin tegas.
“Cuma lebaran nurut Gusti Alloh itu kapan, ya sepurane ae.. masiyo jelek-jelek sehari semalam lima kali dialog dengan Gusti Alloh lewat sholat... tapi saya nggak berani “njampangi” kehendak Gusti Alloh”, kata Ustad Mukidin sambil melepas kopiahnya dan garuk-garuk kepalanya yang nggak gatal.
Manusia sebelum dilepas di dunia ini udah dibekeli ilmu dan akal. Monggo dibuka dan dipake bekal itu. Nah dengan bekal akal itu manusia bisa punya ilmu atau mengembangkan teori.
Kembali ke sejarah…. ketika peradaban Islam memasuki masa gemilang di Eropa dulu. Ilmu apa yang pertama kali dikembangkan? Penelitian membuktikan yang pertama adalah astronomy atau ilmu falak. Kenapa? Lha iyalah… karena ilmu itu langsung berkaitan dengan kegiatan ibadah orang Islam. Umat Islam kalo mau sholat harus ngerti ilmu tentang peredaran matahari, sedangkan kalo mau ibadah puasa harus paham ilmu peredaran bulan.
Sehingga abad emas itu melahirkan ilmuwan besar seperti Al-Farghani yang menghasilkan karya monumental Kitab fil Al Harakat al-Samawiya wal Jarwani Ilm Al-Nujum yang kemudian dialih bahasakan menjadi The Elements of Astronomy. Asaking terkenalnya di dunia astronomi sampai namanya diabadikan sebagai nama sebuah kawah di bulan (afraganus crater).
Di pesantren tradisional rasanya tidak pernah diajarkan ilmu untuk jadi teroris tetapi pasti diajarkan ilmu falak. Para santri atau kaum sarungan itu umumnya piawai menggunakan teropong theodolit tradisional yang terbuat dari kayu yang dinamakan rubu'al mujayyab. Dari kalangan pesantren kuno Indonesia juga lahir ilmuwan falak yang cukup disegani bahkan di dunia internasional seperti almarhum Kyai Abdul Djalil dari Pati (beliau pernah jadi Ketua Lajnah Falakiyah NU/DEPAG). Kitab karangan beliau Fath al-Rauf al-Manan walaupun sangat basic tetapi jadi buku pegangan wajib bagi santri yang ingin mempelajari ilmu falak sampai saat ini.

Dengan perkembangan mutakhir dimana teropong sudah sangat maju, perhitungan-perhitungan dilakukan dengan bantuan komputer, sehingga akurasi hasil pengukuran sudah tinggi. Bahkan orang saat ini sudah bisa meramalkan besuk tahun 2013 nanti Idul Fitri akan jatuh pada tanggal 17 Agustus, jadi nanti pagi hari kita sholat ied, siang sedikit upacara, habis itu balapan karung atau panjat pinang sambil salam-salaman. Terjadinya gerhana bisa diramal sampai ke detil menit dan detik.

Maka aneh di jaman semaju ini untuk obyek yang jelas terlihat, menghasilkan teori yang saling bertentangan satu sama lain. Seorang Tionghoa menyatakan keheranannya, kenapa ummat Islam berselisih menetapkan tanggal 1, padahal di tradisi mereka bisa memperhitungkan suatu saat di mana gravitasi sedemikian rupa sehingga sebutir telur bisa bediri tegak.

Ternyata masalahnya bukan di situ, secara kuantitif hasil pengukuran ulama ahli hisab maupun ulama ahli rukyat sebenarnya memang tidak ada perbedaan, kalaupun ada itu hanya minor saja.
Lalu masalahnya di mana? Pangkal soalnya perbedaan penetapan tanggal satu Syawal itu bukan pada hasil perhitungannya tetapi lebih kepada perbedaan interprestasi karena perbedaan kriteria yang dipakai.

Ada beberapa mainstream aliran interprestasi, diantaranya adalah aliran "wujudul hilal" dan aliran "rukyatul hilal".

Wujudul Hilal, pedomannya "Jika setelah terjadi ijtimak (bulan bertemu matahari di suatu garis), bulan terbenam setelah terbenamnya matahari maka malam itu ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian bulan saat matahari terbenam". Jadi yang penting posisi bulan sudah diatas ufuk, nggak peduli hilal terlihat atau enggak (catatan: hilal itu bukan bulan keseluruhan tetapi bagian bulan yang terkena sinar matahari yang terlihat dari bumi).

Acuan aliran Rukyatul Hilal adalah "masuk awal bulan apabila hilal sudah terlihat (supaya hilal dapat terlihat tinggi bulan minimal harus di atas 4 derajad atau ebih tinggi lagi tergantung jarak antara bulan dan bumi).

Itulah pangkal masalahnya, perbedaan bukan pada akurasi hasil perhitungan tetapi pada masalah fikih yaitu kriteria yang dipakai untuk membuat interprestasi dari hasil pengukuran itu. Perbedaan terjadi karena yang satu menganggap akan lebaran bila bulan sudah diatas ufuk (berarapun asal sudah >0), yang satunya mengatakan baru berlebaran kalau hilal sudah terlihat (padahal supaya terlihat sudut minimal harus >4 derajat, saat posisi bulan di atas 0 derajad apabila masih di bawah 4 derajat, kecil kemungkinannya bis aterlihat). Nah, pada waktu matahari tenggelam ketinggian bulan di bawah 4 derajat inilah yang selalu memicu kontroversi dalam penentuan awal bulan. Perbedaan akan terjadi terus selama belum ada kesepakatan tentang kriteria yang dijadikan acuan. Rembulan di atas ufuk-kah atau hilal terlihatkah?
Di samping yang menggunakan acuan penampakan bulan, juga ada juga yang menggunakan perhitungan kalender seperti ABOGE atau "1 Suro tahun Alip jatuh pada hari Rebo Wage" (yang sejak 19 Oktober 1982 berubah menjadi ASAPON atau "1 Suro tahun Alip jatuh pada hari Selasa Pon) . Perhitungan ini juga menghasilkan hari 1 Syawal yang lain lagi. Untuk yang terakhir ini memang tidak diterima oleh ulama fikih, sehingga hanya dipergunakan secara terbatas.

Untuk kita yang awam bagaimana?

Idealnya sih ada kesepakatan para ulama mengenai kriteria tersebut (pilih salah satu: yang di atas ufuk atau rembulan/hilal terlihat atau kriteria lain). Emang supaya sama, tidak ada pilihan lain harus pilih salah satu, sehingga mau nggak mau harus ada yang ngalah. Itulah kenapa penyatuan saat berlebaran itu suatu hil yang mustahal terjadi di negara kita ini.

Ada juga pendapat, sebaknya mengikuti lembaga yang paling punya otoritas untuk menetapkan, yaitu Pemerintah, tetapi ini juga ada tentangan kenapa untuk urusan beginian pemerintah harus turut campur. Emang di negara lain dimana umat Islam minoritas, keputusan Pemerintah mengenai awal puasa dan lebaran selalu dipatuhi (mungkin karena sebagian besar rakyat tidak terpengaruh langsung), Indonesia yang muslimnya mayoritas keputusan pemerintah mendapat tentangan. Padahal kesamaan hari raya itu sebenarnya sangat diperlukan untuk mengatur aktivitas pelayanan publik. Perbedaan waktu sholat tidak banyak berpengaruh terhadap kegiatan publik, tetapi perbedaan hari raya/lebaran besar pengaruhnya terhadap pelayanan publik, karena di waktu libur kliring perbankan, transaksi internasional, aktivitas pasar modal, jam kantor, sampai angkutan umum di hari seputar lebaran harus diatur ulang.
Tetapi semua terpulang hati masing-masing, karena fatwa ulama sekalipun, sebenarnya hanya mengikat orang yang meyakini, kita tidak wajib mengikuti kalo nggak yakin dan melanggarnya juga tidak bisa dikenakan sangsi. Lain halnya fatwa lain halnya QANUN seperti di Nangroe Atjeh

Silahkan bagi yang ingin mendalami masalah ini, link-link yang dapat dilayari:
http://www.as.itb.ac.id/~ferry/Articles/HilalVisibility/HilalVisibility.html
http://media.isnet.org/isnet/Djamal/almanak.html
http://rukyatulhilal.org/

Sabtu, 2007 Oktober 13

Selamat Idul Fitri 1428 H


kepada anda yang merayakan,
selamat idul fitri 1428 h
"taqaballahu minna wa minkum, taqabal ya karim"
semoga allah menerima ibadah ramadhan dan merahmati anda.
untuk seluruh pembaca:
mohon maaf lahir dan batin.

Kamis, 2007 Oktober 11

Tamu itu akan segera berlalu

Tamu itu akan segera undur diri... meninggalkan kita dan tidak akan pernah kembali lagi .. Ya... Ramadhan tahun ini akan segera berlalu...
Tidak ada diantara kita yang bisa memastikan apakah bisa bertemu kembali dengan Ramadhan tahun depan.. kalaupun bisa bertemu itu pasti bukan Ramadhan tahun ini, karena ketika itu sisa umur kita sudah berkurang satu tahun sehingga kita tidak lagi semuda sekarang...
Dalam rentang kehidupan ini, Ramadhan demi Ramadhan berlalu. Seseorang yang di tahun lalu masih terlihat bersama kita, di Ramadhan kali ini sudah pergi selamanya. Boleh jadi seseorang yang di Ramadhan ini masih bisa kita ajak tawa canda, di tahun depan sudah tidak dapat kita jumpai lagi....
Seperti halnya mereka, kita juga akan sampai pada Ramadhan yang terakhir yang kita belum tahu kapan itu. Mustahil kalau terjadi seratus tahun lagi, paling lama hanya beberapa puluh tahun lagi, bisa saja hanya belasan tahun lagi, bahkan sepuluh tahun lagi, lima tahun lagi, satu dua tahun lagi... atau bisa juga tidak ada orang yang tahu kalau ini adalah Ramadhan terakhir yang masih bisa kita alami...
Para sahabat Kanjeng Nabi bersedih ketika Ramadhan akan berlalu, karena harus berpisah dengan bulan suci yang didamba kehadirannya. Seperti tidak merasa lelah mereka berlomba memanfaatkan saat ijabah penuh berkah yang ada di dalamnya, penuh gairah mengisinnya dengan aktivitas ibadah dan amal saleh untuk meningkatkan ketaqwaan, mengasah kepekaan nurani dan membangkitkan kepedulian terhadap penderitaan sesama...
Sebulan Ramadhan belum cukup waktu bagi mereka dalam menghapus rindu, sebulan terlalu singkat untuk meraih berkah dan hikmah bulan mulia. Maka ketika Ramadhan itu berlalu, mereka melepas kepergiannya dengan air mata haru, setumpuk sesal yang menyesak dada karena merasa masih ada saja waktu yang ter buang waktu sia-sia selain untuk beribadah dan berkarya untuk meningkatkan derajad taqwa..
Satu-satunya harapan yang tersisa hanya doa hanya agar bisa diperkenankan bisa bertemu dengan Ramadhan tahun berikutnya, walaupun dalam waktu sisa umur yang berbeda, dalam kondisi fisik yang makin menua, tetapi berharap untuk mampu dan mau mengisi bulan Ramadhan dengan lebih baik lagi.
Pada sisi lain.. di bulan Ramadhan setan dan iblis dibelenggu. Bagi setan Ramadhan adalah memberatkan, keberadaannya adalah beban, waktu sebulan juga terasa lama. Perpisahaan dengannya menimbulkan rasa lega, sehingga akhir bulan mereka sambut suka cita karena akan terbebas dari penjara. Harapannya, jangan sampai cepat-cepat bertemu kembali lagi dengan Ramadhan.
Inikah yang saat ini ada di benak kita? Kalau demikian barangkali inilah salah satu cermin yang mampu memberikan gambaran secara jujur diri kita sesungguhnya...
Naudzubillahi min dzalik....